• KANAL BERITA

Pengusaha Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Pajak

Foto: istimewa
Foto: istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jefri Fransiskus (31), warga Pudakpayung, Banyumanik mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang untuk melaporkan pria berinisal TM, rekan bisnisnya. Pelaporan tersebut terkait dugaan penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan warga asal Korea tersebut.

Jefri Fransiskus mengatakan, kasus tersebut bermula dari pertemuam antara dia, tiga rekannya dan terlapor hingga pada April 2017 mereka berlima sepakat untuk bekerjasama menjalankan usaha hiburan malam yang berada di salah satu hotel di Jalan Sultan Agung, Gajahmungkur. "Kami sepakat untuk buka usaha bersama, usaha itu kami beri nama Zeus Executive Karaoke," ungkap pengusahan tersebut.

Setelah sepakat, dia kemudian menamamkan investasi yang diberikan kepada TM begitu juga dengan rekan bisnis lainnya. Namun besaran investasi yang ditanamkan berbeda-beda. "Tidak sama besaran invetasi yang ditanamkan, kalau saya menamamkan Rp 400 juta atau 10 persen dari saham tersebut. Dari modal usaha tersebut saya sesuai kesepakatan uang modal akan dikembalikan dan mendapatkan keuntungan 10 persen per bulannya," ujarnya.

Berapa bulan kemudian, lanjut dia, bisnis tempat hiburan malam tersebut berjalan dan dia mengetahui kalau banyak pengunjung yang datang setiap harinya. Namun, uang keuntungan 10 persen yang menjadi haknya seperti dalam kesepakatan belum diterimanya sampai sekarang. "Memang uang BEP saham Rp 400 juta (modal investasi-red) sudah saya terima pada 2017, tapi uang keuntungan usaha 10 persen per bulan dari awal hingga Juni ini belum saya terima," jelasnya.

Mendapati itu, dia berusaha menanyakan haknya kepada TM. Namun terlapor mengatakan kalau tidak ada keuntungan yang bisa diberikan kepada dirinya. Jefri yang heran kenapa tidak ada keuntungan padahal tempar hibura tersebut ramai pengunjung, kemudian melakukan penelusuran.

"Ternyata dari temuan saya, omzet  dari April 2017 sampai Mei 2018 mencapai Rp 25 miliar, tapi sepeser pun saya tidak pernah menerima keuntungan sesuai dengan saham yang  saya tanamkan. Karena saya merasa telah ditipu  saya melapor polisi," ungkapnya.

Dari penelusuran tersebut, lanjut dia, juga diketahui kalau tempat usaha tersebut diduga melakukan dugaan penggelapan pajak. "Saya menduga ada laporan pajak yang dipalsukan tidak sesuai dengan omzet sebenarnya. Kalau omzet Rp 2 Miliar per bulan, seharusnya perusahaan membayar pajak ke Pemkot senilai Rp 200 juta per bulannya, tapi ini bervariasi antara Rp 4 juta - Rp 20 jutaan," ujarnya.

Dengan temuan tersebut, Jefri berharap Pemkot melakukan penelusuran supaya diketahui secara langsung. Tak hanya itu, dia juga menemukan dokumen berupa bill atau bukti pembayaran terkait prostitusi. Barang bukti tersebut kemudan digunakan dia untuk melapor hingga Satreksrim Polrestabes Semarang mendatangi tempat hiburan malam tersebut untuk melakukan pengecekan. "Semua bukti-bukti sudah dikantongi penyidik," ungkapnya.


(Erry Budi Prasetyo/CN26/SM Network)