• KANAL BERITA

Butuh Pertimbangan Khusus untuk Melarang atau Mengurangi Volume Impor

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Soal wacana perlunya penekanan nilai impor, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Novani Karina Saputri mengatakan, hal ini tidak tepat dan berisiko membuat tingginya harga komoditas di dalam negeri.

"Untuk melarang atau mengurangi volume impor butuh pertimbangan khusus karena hal ini akan memengaruhi stabilitas harga di pasar domestik. Karena produksi dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik, maka impor harus tetap dilakukan untuk menjaga kestabilan harga," kata dia.

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah pasti berdampak pada mahalnya barang-barang impor. Sebagai importir utama untuk beberapa barang terutama bahan pokok, Indonesia pasti terdampak oleh fenomena ini. Semakin mahalnya barang impor yang merupakan bahan pokok dan bahan produksi ini akan meningkatkan nilai jual produksi sehingga harga menjadi mahal.

"Tidak hanya industri besar, tetapi pedagang-pedagang kecil yang menjual bahan pokok juga merasakan meningkatnya harga. Inflasi semacam ini akan menurunkan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung akan berdampak pada melemahnya perekonomian Indonesia secara agregat," tegasnya.

Nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud antara lain adalah kondisi sosial dan keamanan dalam negeri, yang pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah. Sementara itu faktor eksternal yang selalu terdengar adalah dampak kenaikan suku bunga The Fed, Perang dagang China Amerika tingginya hingga harga minyak dunia.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)