• KANAL BERITA

Tekan Defisit Perdagangan, Impor Amonium Nitrat Dibatasi 

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kementerian Perindustrian membatasi impor amonium nitrat dari luar negeri untuk menekan impor bahan kimia yang nilainya cukup signifikan sehingga berdampak pada defisit neraca perdagangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor bahan kimia dan produknya tercatat US$8,6 miliar pada periode Januari hingga April 2018. Angka ini naik 17,49 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu yakni US$7,32 miliar.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan langkah ini merupakan solusi jangka pendek atas melemahnya kinerja dagang Indonesia. "(Solusi) jangka pendeknya seperti pembatasan impor amonium nitrat," jelas Airlangga dari siaran pers dikutip Senin (9/7).

Impor amonium nitrat, diungkapkan Airlangga perlu dibatasi mengingat sudah banyak perusahaan yang mumpuni untuk memproduksinya. 

Bahkan, sudah ada perusahaan yang berkomitmen untuk menambah produksi senyawa kimia bagi bahan baku pupuk ini, seperti PT Pupuk Kalimantan Timur yang bekerjasama dengan PT Dahana untuk memproduksi amonium nitrat berkapasitas 75 ribu metrik ton per tahun.

Setelah pembatasan produksi, solusi jangka panjang untuk menekan impor kimia adalah mendorong investasi dan substitusi impor. Bukan tidak mungkin nantinya Indonesia jadi pengekspor amonium nitrat.

"Kapasitas produksinya (amonium nitrat) sudah mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kami dorong pasar domestik lebih optimal dan terus digenjot untuk ekspor," ujar Airlangga.

Ia juga bilang, industri kimia adalah salah satu prioritas pemerintah, sehingga tak heran jika ia menjadi satu dari lima industri prioritas yang menjadi fokus revolusi industri 4.0. Tahun lalu saja, sumbangan sektor ini ke Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat Rp236 triliun.

Hanya saja, penguatan industri kimia perlu didukung dengan biaya produksi yang murah. Adapun, cara ini bisa dilakukan dengan memberikan kepastian pasokan dan harga gas bumi yang terjangkau.

"Kemampuan pengembangan tersebut dapat diwujudkan dengan jaminan pasokan gas bumi untuk domestik, kebijakan kuota impor untuk produk unggulan tertentu serta sinergi dengan pengembangan riset teknologi," paparnya.

Perbaikan defisit neraca perdagangan merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengantisipasi defisit transaksi berjalan yang nantinya berujung dalam pemumpukan cadangan devisa.

Data BPS menunjukkan neraca perdagangan defisit sebesar US$2,83 miliar antara Januari hingga Mei tahun ini. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia ikut melorot dari US$131,98 miliar di bulan Januari ke US$119,8 miliar di bulan Juni kemarin.


(CNN/CN19/SM Network)