• KANAL BERITA

Daerah Dingin, Jadi Alasan Nikah Dini

SM/ M Abdul Rohman
SM/ M Abdul Rohman

WONOSOBO, suaramerdeka.com - KABUPATEN Wonosobo merupakan daerah pegunungan bersuhu udara dingin. Dinginnya udara di kabupaten berslogan Asri itu, rupanya masih menjadi salah satu alasan, sejumlah remaja ingin melakukan pernikahan dini. Bahkan, Mayestika Eka Nur Fitriana yang terpilih sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe) Wonosobo 2018 mengaku pernah beradu opini mengenai nikah muda dengan seorang laki-laki yang berencana akan menikah untuk kedua kalinya.

"Saya pernah beradu opini mengenai nikah muda dengan seorang laki-laki yang berencana akan menikah untuk kedua kalinya. Karna Wonosobo berada di pegunungan, sehingga suhu udara dingin menjadi alasan untuk menikah setelah ia lulus SMP. Ternyata, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai usia ideal untuk menikah. Untuk perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun," ujar dia kepada Suara Merdeka, kemarin. 

Menurut dara kelahiran Bantul, 7 Januari 1996 itu, dampak dari pernikahan dini sangatlah kompleks.
Memang ada dampak positif dan negatif dari tindakan ini. Untuk dampak positif, mengurangi beban orang tua, karena semua kebutuhan anaknya akan dipenuhi suami. Bahkan, orang tua berharap beban ekonominya akan dibantu. Selain itu, mencegah kemaksiatan, seperti perzinaan atau seks bebas di kalangan remaja.

Namun, Mayes sapaan akrabnya menilai, dampak negatif pernikahan dini justru lebih banyak, seperti halnya belum siapnya mental dan fisik yang matang, sehingga belum siap menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Akibatnya, sering terjadi pada masing-masing pasangan tersebut rasa ingin menang sendiri, imbasnya mereka malah saling bertengkar. "Karena menikah di bawah umur, mereka masih mempunyai sifat kekanak-kanakan," ujarnya.

Mereka belum bisa mandiri dalam mengurusi kehidupan keluarganya. Ketika terjadi pertengkaran dalam rumah tangga, orang tua masing-masing malah kadang bisa ikut campur dalam menyelesaikan masalah nya. Bagi kesehatan wanita, melangsungkan pernikahan di bawah umur juga sangat rentan mengalami gangguan-gangguan pada kandungannya, bahkan sangat rentan terjadi perceraian di dalam pernikahan dini. 

Melalui GenRe, mahasiswa kebidanan di Poltekkes Kemenkes Semarang itu terus mencoba menyelami pengetahuan menjadi gerenasi berencana. Dari GenRe ia belajar dan terus belajar dari lingkungan, masyarakat dan budaya yang ditemui. Selain itu ia mampu menerapkan ilmu yang didapat di kampus secara langsung ke masyarakat. "Karna GenRe kunci pokoknya adalah mengajak remaja menjadi generasi berencana," tutur warga Griya Madukoro Asri F.8  RT 03 RW 06, Bumireso, Wonosobo itu.

Dengan itu, diharapkan ia mampu menjadi rollmodel untuk remaja yang terhindar dari resiko Triad KRR (Seksualitas, HIV/AIDS dan Napza) melewati fase-fase kehidupan dengan penuh perencanaan yang penting untuk masa depan ia sendiri. "Hal yang saya lakukan sejauh ini ikut menyosialisasi pentingnya generasi berencana tidak hanya kepada remaja, namun masyarakat, melakukan pendidik sebaya dan konselor sebaya serta mengajak remaja menjadi generasi berencana lewat media sosial," tutur anak pertama pasangan Sugiyana dan Sulastri itu. 


(M Abdul Rohman/CN34/SM Network)