• KANAL BERITA

Pemilik Lahan Mengadu ke Ombudsman

Pedagang Pasar Babadan Jualan di Luar

Sri Mulatsih, anak Slamet Siswosuwarjo menunjukkan bukti foto kopi sertifikat tanah lahan pasar Babadan. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)
Sri Mulatsih, anak Slamet Siswosuwarjo menunjukkan bukti foto kopi sertifikat tanah lahan pasar Babadan. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)

KLATEN, suaramerdeka.com – Pemilik yang mengklaim lahan Pasar Babadan, Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari mengadukan sengketa lahan pasar tersebut ke Ombudsman Jawa Tengah. Pihak pemilik lahan meminta Ombudsman turun tangan.

Endro Sudarsono, pendamping hukum keluarga Sri Mulatsih mengatakan, surat ke kantor Ombudsman sudah dikirimkan bulan lalu. ''Kami ingin campur tangan dari Ombudsman,'' katanya, Minggu (8/7).

Menurutnya, surat ke Ombudsman sudah ditanggapi dan pemilik lahan diminta melengkapi dokumen alat bukti. Tanggal 4 Juli kelengkapan itu sudah dilakukan dan diharapkan tim segera turun ke lokasi.

Aduan itu diharapkan menghasilkan rekomendasi yang meminta Pemkab Klaten dan pemerintah desa menarik klaimnya atas lahan 2.500 meter yang digunakan sebagai pasar. Sebab informasi adanya rapat tukar-guling lahan pasar dengan lahan kas desa tahun 1967 tidak bisa mengalahkan sertifikat hak milik (SHM) tanah nomor 588 yang terbit tahun 1986.

Aduan Ombudsman itu dibuat sebab berbagai upaya sudah dilakukan tetapi tidak ada solusi. Keluarga sudah mengirimkan somasi ke Pemkab Klaten, namun Pemkab tetap mengklaim lahan pasar sebagai milik pemerintah.

Menurut Sri Mulatsih, anak dari Slamet Siswosuharjo keluarga tidak melakukan upaya hukum gugatan ke pengadilan. ''Untuk apa gugatan sebab sudah jelas sertifikat masih atas  nama bapak saya,'' ungkapnya.

Bahkan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 2010 mengecek dan masih menyatakan tanah sah milik ayahnya.

Jalur Hukum

Keluarga, lanjut Sri, meminta pasar dikosongkan sebab pedagang sudah bertahun-tahun diberi kelonggaran. Dia mengaku kasihan dengan pedagang sebab pedagang juga korban masalah itu.

Kepala Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Soedarto mengatakan, pemerintah desa menyerahkan masalah itu ke jalur hukum. Pemerintah desa sudah menyerahkan upaya hukum ke Pemkab melalui Bagian Hukum. Pemerintah desa tetap menganggap lahan itu milik desa sebab sudah ada tukar-guling tahun 1967. Keluarga Slamet sudah menggarap lahan kas desa dengan luas yang sama.

Saat ini, setelah lahan pasar dipagar anyaman bambu oleh keluarga Slamet Siswosuharjo.  Sebagian pedagang pun berjualan berjualan di luar, di Jl Pakis-Daleman atau di sub terminal Daleman. Namun sebagian pedagang kios belum bisa berjualan, lantaran lahan masih dipagar.


(Achmad Hussain/CN40/SM Network)