• KANAL BERITA

78 Hektare Lahan Pertanian Kentang Rusak

Terdampak Bun Upas di Dataran Tinggi Dieng

Petugas PPL Kejajar memantau kondisi lahan pertanian kentang yang mengalami kerusakan pasca terjadi embun es atau bun racun. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Petugas PPL Kejajar memantau kondisi lahan pertanian kentang yang mengalami kerusakan pasca terjadi embun es atau bun racun. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Lahan pertanian kentang seluas 78 hektare milik petani di dataran tinggi Dieng rusak akibat kejadian bun upas. Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo mencatat, ada enam desa terdampak suhu dingin yang menyebabkan tanaman kentang dan wortel layu, pasca terkena embun upas. Enam desa terdampak, antara lain Desa Dieng, Jojogan, Sikunang, Sembungan, Patakbanteng dan Parikesit.

Kepala Dispaperkan Wonosobo, Abdul Munir mengungkapkan, dampak kerusakan embun es atau bun upas di wilayah Kecamatan Kejajar, terjadi pada komoditas kentang dengan gejala berupa pucuk tanaman hangus seperti terbakar. Kejadian embun es biasanya berdampak pada tanaman kentang dengan umur di bawah 70 hari. "Komoditas lain seperti wortel, bawang daun, carica, kacang dieng, cabai dieng, dan lainnya blm nampak terjadi kerusakan secara nyata dan signifikan," ujarnya kemarin.

Menurut dia, hasil pantauan penyuluh pertanian lapangan (PPL) di lapangan, sejumlah wilayah desa yang terdampak dan terjadi kerusakan ada di enam desa. Lahan pertanian di Desa Dieng yang berbatasan langsung dengan Banjarnegara, merupakan lokasi yang cukup banyak mengalami kerusakan. Untuk Desa Dieng, dengan intensitas kerusakan tujuh persen mencapai 11 hektare, intensitas 17 persen mencapai 20 hektare dan intensitas 60-85 persen mencapai tujuh hektare.

Sementara Desa Jojogan, luas kerusakan mencapai 12 hektare dengan intensitas 10 persen. Desa  Sikunang, luas kerusakan mencapai enam hektare dengan intensitas tujuh persen. Sedangkan Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi, luas kerusakan mencapai empat hektare dengan intensitas tujuh persen. Untuk Desa Patakbanteng, luas kerusakan mencapai 13 hektare dengan intensitas sembilan persen dan Desa Parikesit, luas kerusakan mencapai lima hektare dengan intensitas 13 persen.

"Untuk intensitas kerusakan di bawah 30 persen dimungkinkan tanaman akan pulih dalam waktu 15-20 hari ke depan, dengan upaya penyiraman dan antisipasi kemungkinan muncul kerusakan akibat organisasi pengganggu tanaman (OPT) seperti phythophthora, infestans, rhizoctonia dan lainnya pasca embun es. Perlu juga dengan persiapan peralatan penyiraman dan naungan baik paranet, dahan bambu gendani, alang-alang dan lainnya sebagai antisipasi muncul kembali embun es," beber dia.

Sementara itu, untuk tanaman kentang dengan intensitas kerusakan di atas 30-85 persen masih ada kemungkinan akan muncul tunas baru kembali dengan aplikasi pupuk susulan dan perawatan, namun hasil produksi akan menurun atau berkurang antara 15-50 persen dari produksi normal. "Hasil itu bisa diperoleh para petani, jika tidak terjadi kemuncunculan embun es di lahan pertanian mereka dalam waktu dekat," terang dia.

Disebutkan, upaya antisipasi sulit dilakukan karena embun es ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat suhu udara dalam waktu relatif singkat, turun di bawah nol derajat celsius. Kondisi ini menyebabkan cairan dalam tubuh tanaman membeku, menyebabkan sel-sel tanaman pecah. Gejala yang nampak, tanaman kentang layu seluruh tanamanya. "Secara ilmiah, kasus tersebut disebut "Frost", petani Dieng menyebutnya bun upas karena embun yang berwarna putih seperti kapas," beber dia.

Dia menjelaskan, secara alami di Dieng, biasanya terjadi sekitar bulan Juli-Agustus. Di Jepang, di perkebunan teh dipasang kipas angin pada saat musim frost, kipas tersebut dinyalakan sehingga dapat mencegah terjadinya 'frost'. "Hal itu mengingat catatan atau informasi cuaca harian sampai detail saatnya jam terjadinya sangat akurat, maka pencegahan atau antisipasi  terhadap suatu kejadian alam sangat efektif dan kerugian dalam bentuk materi atau yang lain sangat minimal," beber dia.

Opsi antisipasi kerugian, menurut dia, bisa ditawarkan dengan asuransi. Yang jadi pertanyaan dibenahnya, apakah petani tertarik? juga apa ada perusahaan asuransi yang tertarik? Hal ini menurutnya perlu penjajagan. "Yang jadi masalah, luasan kasusnya relatif kecil dibanding luas tanaman kentang keseluruhan yang mencapai sekitar 1.700 hektare per musim dan lokasi kejadian bisa berpindah-pindah," terang dia.

Senada, Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kejajar, Sadilan menyebutkan, tanaman kentang akan poso apabila frost terjjadi tiga hari berturut-turut, namun kemarin baru terjadi sekali pada Jumat (6/7).

"Jadi tanaman masih menghasilkan, apabila kerusakkan kurang dari 50 persen. Kalau kerusakan lebih dari 80 persen, kerugian antara Rp 75 juta-Rp 85 juta per hektare untuk biaya produksi. Penanggulangan kerusakan kurang dari 60 persen dengan disiram sebelum terbit matahari sehabis terkena pada malam harinya. Sehingga sel tanaman tidal pecah akibat pemuaian air sel," beber dia.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)