Surga di Kaki Gunung Slamet yang Semakin Sejahtera

Andika
- Sabtu, 13 Oktober 2018 | 03:53 WIB
DESA WISATA: Rest Area D'LAS menjadi lokasi utama Desa Wisata Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. (suaramerdeka.com / Ryan Rachman)
DESA WISATA: Rest Area D'LAS menjadi lokasi utama Desa Wisata Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. (suaramerdeka.com / Ryan Rachman)

RIDWAN  Sururi (43) sedang menuntun kuda putih bernama Luna. Di punggung Luna seorang anak TK menungganginya. Mereka berkeliling di aera Rest Area Desa Wisata Lembah Asri Serang (D'LAS) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Kamis (11/10). Dia tidak sendiri, lima ekor kuda dan pawangnya juga berkeliling tempat wisata di kaki Gunung Slamet itu.

Sekitar sepuluh menit berselang, pria yang akrab disapa Ruri kembali ke pangkalan dengan kudanya, tak jauh dari pintu keluar D'LAS. Setelah penumpang turun, orang tua anak itu kemudian memberikan uang Rp 15 ribu kepada Ruri. Tak sempat istirahat, ia kembali menaikkan penumpang ke kudanya, dua anak sekaligus. Dia berkeliling lagi menuntun kudanya. Untuk dua anak sekaligus, tarifnya dikenakan Rp 25 ribu.

"Lumayan ramai hari ini. Ya kalau ramai seperti ini, biasanya saya membawa pulang Rp 250 ribu untuk seekor kuda. Kebetulan saya punya dua kuda tunggangan yang saya sewakan di sini (D'LAS)," kata pria yang juga aktivis literasi Kuda Pustaka itu.

Sebelumnya, Ruri hanya bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan paling banyak Rp 50 ribu per hari. Dia punya kuda karena hobi. Nah, sejak D'LAS dibuka pada 2013, dia menyewakan kudanya untuk ditunggangi kepada para pengunjung. Kalau toh saat sepi, dia sedikitnya mengantongi Rp 150 ribu sehari dari dua ekor kudanya. Hal yang sama juga didapat oleh beberapa rekannya yang memiliki kuda tunggangan.

Begitu pula dengan Riki Saputra (21), pemuda yang menjaga stand sepeda di atas kawat. Dalam keadaan sepi pengunjung, dia sudah membawa pulang Rp 50 ribu. Jumlah itu sama ketika dia bekerja di rumah membuat bulu mata palsu yang disetorkan kepada pengepul. Kalau pengunjung ramai, tentu saja semakin tebal pula sakunya.

"Kalau ngidep di rumah, sehari semalam harus duduk di depan meja dan menganyam bulu mata. Kalau di sini (D'LAS) bisa santai sambil nunggu orang yang mau naik sepeda. Sekali naik, dia bayar Rp 20 ribu," katanya.

Lain halnya dengan Puji Hartati (33) yang memiliki warung kopi, buah dan sayur serta kebun stroberi di tepi jalan dekat area outbond hutan pinus Desa Serang. Di hari-hari biasa, dia memiliki keuntungan bersih hingga Rp 600 ribu dari jualannya. Kalau sedang ramai, di akhir pekan, libur panjang atau saat event Festival Gunung Slamet (FGS), minimal Rp 2 juta sudah masuk di sakunya.

"Yang paling banyak pemasukan dari kebun stroberi. Pengunjung kan biasanya masuk dan petik sendiri. Kalau sekarang kan stroberi sedang tidak banyak buahnya. Saya juga menanam sayur seperti kubis, wortel dan daun bawang. Pengunjung juga bisa masuk petik sendiri. Kalau sayur sudah saatnya panen, saya jual ke pedagang sayur," cerita perempuan yang memiliki lahan pertanian seluas setengah hektare ini.

Ruri, Riki dan Puji merupakan tiga dari ratusan orang yang menggantungkan nafkahnya di Desa Wisata Serang ini. Sejak desanya menjelma menjadi salah satu desa wisata primadona di Kabupaten Purbalingga, mereka merasakan perekonomian yang meningkat. Awalnya, sebagian besar penduduk desa itu yang hanya bermatapencaharian sebagai petani, kini tidak hanya bergantung pada hasil pertanian yang panennya berkala. Setiap hari mereka punya penghasilan yang bisa melebihi gaji pegawai kantoran.

Halaman:

Editor: Andika

Terkini

Pesta Miras di Cepu Memakan Korban, 5 Orang Tewas

Kamis, 20 Januari 2022 | 08:48 WIB

Penduduk Miskin Jawa Tengah Turun 175,74 Ribu Orang

Selasa, 18 Januari 2022 | 16:20 WIB

Polres Boyolali Musnahkan 300 knalpot Brong

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:57 WIB
X