Produksi Pupuk dan Teh Daun Kelor

- Senin, 30 Agustus 2021 | 01:00 WIB
SM/Ilyas al-Musthofa - PUPUK ORGANIK: Pupuk organik yang diproduksi oleh siswa dan guru SMPN 2 Rembang memanfaatkan lingkungan sekolah sudah mulai dikomersialkan secara terbuka di luar sekolah. (70)
SM/Ilyas al-Musthofa - PUPUK ORGANIK: Pupuk organik yang diproduksi oleh siswa dan guru SMPN 2 Rembang memanfaatkan lingkungan sekolah sudah mulai dikomersialkan secara terbuka di luar sekolah. (70)

SMPN 2 Rembang Bersaing Raih Adiwiyata

YA, di tengah wabah Covid-19 yang belum berujung ini, kolaborasi antara guru dan siswa mampu menghasilkan produk pupuk, teh, dan tanaman pangan alternatif berupa jamur. Enam bulan terakhir ini, SMPN 2 Rembang memproduksi pupuk, teh dan jamur di lingkungan sekolah mereka.

Berangkat dari banyaknya kekosongan waktu lantaran kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH), guru yang dibantu sejumlah siswa lantas mencurahkan pikiran ke kreativitas di luar kelas. Ada dua jenis pupuk yang diproduksi.

Pertama adalah pupuk cair. Pupuk ini memanfaatkan beberapa jenis dedaunan di lingkungan sekolah. Selanjutnya, bahanbahan itu difermentasi selama tiga hari dengan campuran bahan khusus. Cairan yang keluar itu digunakan sebagai pupuk cair. Kedua adalah pupuk organik, yang memanfaatkan sampah dan dedaunan di lingkungan sekolah.

Bahan-bahan itu dicampur dengan sekam dengan persentase yang sudah diatur hingga akhirnya menjadi pupuk. Kepala SMPN 2 Rembang Nur Hasan menyatakan, sama dengan pupuk, produk teh daun kelor dan jamur juga diproduksi dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekolah.

Kebun Kecil

Guru dan siswa membuat kebun kecil yang ditanami kelor. Daunnya dipetik untuk teh. ”Kami memanfaatkan kebun sekolah. Siswa dan guru berkolaborasi merawat dan menggunakan daun kelor untuk teh. Begitu pula dengan jamur yang juga dibudidayakan bersama oleh guru dan siswa,” terang Hasan.

Produk-produk itu mulai dikomersialkan alias dijual untuk kalangan internal dan umum di luar sekolah. Sementara ini hanya teh daun kelor yang belum dipasarkan di luar sekolah, baru menyentuh kalangan guru sebagai penikmat. ”Kami berencana memproduksi secara berkelanjutan.

Pelan-pelan akan kami pasarkan lebih luas, untuk mengajarkan wirausaha di kalangan siswa,” papar Hasan. Hasan menuturkan, selain karena dampak pandemi, upaya wirausaha itu juga lantaran tuntutan menuju penghargaan Adiwiyata nasional. SMPN 2 Rembang satu-satunya sekolah di Rembang yang masuk penilaian Adiwiyata nasional.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

7 Fakta Meninggalnya Ameer Azzikra, Adik Alvin Faiz

Senin, 29 November 2021 | 18:55 WIB
X