IDI Ajak Percepat Vaksinasi dan Lawan Disinformasi

- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 20:07 WIB
Peserta JKN-KIS yang terkover Program Pengelolaan Penyakit Kronis menerima vaksinasi Covid-19 di Klinik Aura Medika Salatiga, Jumat (27/08). (SM/dok)
Peserta JKN-KIS yang terkover Program Pengelolaan Penyakit Kronis menerima vaksinasi Covid-19 di Klinik Aura Medika Salatiga, Jumat (27/08). (SM/dok)

Namun begitu Prof. Hindra juga mengatakan, memang ada laporan tentang dampak setelah vaksinasi.

Hanya saja data di Komnas KIPI menunjukkan, sebagian atau 60 persen laporan tersebut hanya dipicu dari kecemasan.

Vaksinasi juga bukan hal baru di Indonesia dan pengetahuan soal itu terus berkembang. Contohnya, di masa lalu dianjurkan menyediakan penurun demam sebelum vaksinasi.

Belakangan, anjuran direvisi menjadi hanya jika ada gejala.

"Jadi, kalau tidak ada gejala, sebaiknya jangan diberi pereda," kata Prof. Hindra.

Prof. Iris juga mengatakan hal senada. Sejak lama telah dikenal berbagai vaksin. Bahkan, beberapa jenis vaksin harus diulang secara berkala karena mutasi virus terus berlangsung.

Akibatnya, diperlukan vaksin baru yang lebih manjur. Hal itu antara lain terjadi pada influenza.

Ia juga mengajak tenaga kesehatan untuk senantiasa mendorong program vaksinasi.

Saat ini, seluruh vaksin yang beredar telah diuji keamanannya.

Karena itu, tidak perlu menunggu merek tertentu sehingga menunda vaksinasi.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Liga Italia Pekan 23: Waktunya AC Milan Vs Juventus

Sabtu, 22 Januari 2022 | 06:26 WIB
X