Penggunaan Mural Sebagai Media Penyampaian Aspirasi, Pengamat: Ini Bentuk Demokrasi

- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 09:36 WIB
Mural mirip Jokowi bertuliskan 404 Not Found di Tangerang (Nugroho Wahyu Utomo)
Mural mirip Jokowi bertuliskan 404 Not Found di Tangerang (Nugroho Wahyu Utomo)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM sekaligus Pemerhati Seni Visual, Irham Nur Anshari, S.IP., M.A.,menjelaskan penggunaan mural sebagai media penyampaian aspirasi bisa dikarenakan tidak berjalannya sistem penyampai aspirasi formal di pemerintah dengan baik.

Sistem yang tidak lagi mampu menampung aspirasi masyarakat menjadikan sebagian masyarakat mencari media lain untuk menyuarakan pendapatnya dengan cara mengekspose ke publik baik lewat media online maupun offline termasuk mural.

“Kalau via online tidak cukup maka offline juga dilakukan seperti dengan poster dan mural, ini bentuk demokrasi. Tantangan bagaiamana pemerintah bisa mendengar aspirasi dan kritik ini tanpa dengan mudah labelnya dengan oposisi dan sebagainya,” ucapnya.

Soal apakah penggunaan mural untuk menyampaikan aspirasi bisa dianggap efektif? Irham menyebutkan di era PPKM saat ini di mana masyarakat tidak banyak melakukan mobilitas, penggunaan mural dinilai tidak terlalu efektif untuk menyuarakan pendapat.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Tingkat Sekolah Perlu Dibentuk, Pastikan Keamanan dari PTM

Terlebih banyak mural yang digambar di titik-titik yang tidak terjangkau oleh publik seperti di gambar di bawah jembatan.

Kendati begitu, Irham menyebutkan yang menjadi menarik di era internet saat ini mural difoto dan disebarluaskan melalui berbagai platform digital.

Dengan begitu aspirasi maupun kritik sosial dapat tersampaikan secara luas saat terdistribusikan secara online.

“Yang menarik, sebelum mural dihapus sudah ada beberapa orang yang mengambil fotonya dan justru foto asli ini sangat viral. Foto yang tersebar ini menarik minat banyak orang yang belum sempat melihat jadi melihat karena beritanya viral mural itu dihapus. Kritik pun menjadi berlipat ganda, mati 1 tumbuh 1.000,” tuturnya.

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X