Antisipasi El Nino, Pemilik Waduk Diminta Pantau Cadangan Air

- Sabtu, 20 April 2019 | 09:30 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto, menghimbau pada pemilik waduk segera memantau kecukupan air waduk memasuki musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui situs remi menyebutkan awal musim kemarau 2019 diprakirakan mulai bulan April.

Tahun ini juga diperdiksikan Indonesia bakal menghadapi fenomena iklim El Nino sebesar 55 hingga 60 persen. Pada Juli-September 2019, iklim diperkirakan lebih
kering. Sementara, 25,5 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau lebih maju, dan 24 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau di atas normal.

"El Nino terjadi bersamaan dengan puncak musim hujan, maka dampaknya tidak kelihatan. Namun perlu mengantisipasi hal itu sekarang. Para penentu kebijakan apapun yang terkait dengan hujan seperti pengelola waduk, kebakaran hutan, dan pertanian harus mulai siap-siap," ujar Tri Handoko Seto.

Khusus pengelola waduk, kata Seto, perlu mengkalkulasi tinggi meter air saat ini dengan prediksi BMKG berakhirnya musim hujan. "Biasanya tiap daerah bervariasi tetapi secara umum April dan Mei sudah mulai berkurang. Kemudian, apakah cadangan air waduknya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama musim kemarau yang diprediksi tahun akan lebih kering," ujarnya.

Jika hasil perhitungan, ternyata diperkirakan tidak akan memenuhi kebutuhan selama musim kemarau, lanjut dia, maka bisa dilakukan penambahan curah hujan melalui teknologi modifikasi cuaca untuk mengisi waduk, untuk keperluan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) maupun pertanian.

Menurut Seto, ada belasan waduk yang benar-benar harus dicek terutama waduk-waduk besar. Di antaranya waduk Jatiluhur di Jawa Barat, waduk Karangkates di wilayah Malang, Jawa Timur, waduk Sigura- gura di wilayah Sumatera Utara, waduk Batutegi di wilayah Lampung, waduk Gajah Mungkur di daerah Jawa Tengah, waduk Wonorejo di daerah Tulungagung, Jawa Timur. waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan lain sebagainya.

Pada kejadian El Nino di tahun 2015, dampak yang ditimbulkan di sektor pertanian cukup luas. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada saat itu, kekeringan melanda 16 provinsi meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan. Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami defisit air sekitar 20 miliar meter kubik. Selain itu, lahan pertanian seluas 111.000 hektare juga mengalami kekeringan.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X