Prevalensi GERD Terus Meningkat

- Sabtu, 1 September 2018 | 18:30 WIB
Prof dr Abdul Aziz Rani Sp PD-KGEH ketua Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI) kiri, dan Prof Dr da Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM< FACP, salah satu pendiri YGI yang juga Dekan FK UI. (Foto: suaramerdeka.com/Tresnawati)
Prof dr Abdul Aziz Rani Sp PD-KGEH ketua Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI) kiri, dan Prof Dr da Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM< FACP, salah satu pendiri YGI yang juga Dekan FK UI. (Foto: suaramerdeka.com/Tresnawati)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Jumlah penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dari tahun ke tahun terus meningkat. Kementerian Kesehatan mencatat, penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal menduduki 10 besar penyakit terbanyak penderitanya di Indonesia. Mereka umumnya datang ke dokter dengan keluhan pada saluran pencernaan. Sementara Jurnal Digestive Endoscopy tahun 2009 melaporkan penyakit ini menempati penyakit terbanyak yang menyebabkan pasien berobat jalan. GERD merupakan salah satu penyakit gastrointestinal selain diare, gastroenteritis dan dispepsia.

"Apalagi dengan semakin merebaknya gaya hidup tidak sehat, jumlah penderita penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal semakin meningkat. Padahal berbagai penyakit tersebut dapat dicegah dengan modifikasi gaya hidup," ungkap Prof Ari Fahrial Syam, dokter spesialis penyakit dalam dari FK UI di sela peresmian Yayasan Gastroenterologi Indonesia dan meluncuran situs resminya di Jakarta.

Salah satunya adalah menghindari fast food, selain alkohol dan rokok.  Sesuai namanya, fast food akan mengajak konsumen nya untuk makan secara terburu-buru. Padahal makanan yang tidak dikunyah dengan sempurna, menyebabkan pengosongan lambung lebih lambat. Akibat selanjutnya adalah terjadinya reflux yang merupapakn gejala terjadinya GERD.

Sementara asap rokok juga akan sampai ke lambung dan tidak hanya berhenti hingga ke paru-paru. Proses menghisap rokok menyebabkan polutan yang ada dalam asap rokok akan mengiritasi lambung.

GERD ditandai dengan rasa panas di seluruh tubuh, jantung dan lambung tidak nyaman, serta rasa pahit di lidah. Kendati tidak membahayakan jiwa, namun GERD akan menurunkan kualitas hidup seseorang. Penderitanya akan dilanda kecemasan yang sangat, saat penyakit tersebut menyerang. Terlebih lagi penderita GERD akan sering terbangun di malam hari, sehingga kondisi tubuh menjadi tidak segar.

GERD juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Asam lambung yang naik akan menyebabkan luka pada dinding dalam kerongkongan, yang makin lama akan menyebabkan penyempitan kerongkongan bagian bawah. Penyakit ini juga dapat menyebabkan perubahan struktur dinding dalam kerongkongan yang mengakibatkan timbulnya Barret’s yakni lesi pra kanker

"Di luar saluran cerna, asam lambung tinggi naik dapat menyebar ke gigi, tenggorokan, pita suara, saluran pernafasan bawah bahkan sampai paru-paru," katanya.

Atas latar belakang tersebut, maka Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI) didirikan. YGI merupakan yayasan nonprofit yang didirikan oleh dokter-dokter spesialis konsultan gastroenterohepatologi (KGEH) yang juga merupakan pengurus besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI).

YGI akan mensosialisasikan informasi-informasi mutakhir seputar permasalahan kesehatan pencernaan kepada masyarakat melalui berbagai aktivitas diantaranya melalui website.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan

Tags

Terkini

Pintu Nasdem Terbuka Lebar untuk Ridwan Kamil

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:36 WIB

Menyikapi Penurunan Kualitas Demokrasi Selama Pandemi

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:23 WIB
X