Mikro Hidro Gerakkan Roda Kemandirian Energi Warga di Lereng Slamet (2): Dulu Menolak, Kini PLN Merayu Warga

- Senin, 5 Desember 2022 | 16:20 WIB
Sumber air Telaga Pucung menjadi penggerak generator pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Sumber air Telaga Pucung menjadi penggerak generator pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (suaramerdeka.com/Hartatik)

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Siang itu, hujan gerimis membasahi Dusun Kalipondok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Sejumlah warga yang baru saja selesai kerja bakti, seketika menghampiri warung makan Kusmini (38). Tidak sedikit dari mereka memesan nasi hangat, lengkap sayur dan lauk.

Kusmini mengambil nasi hangat langsung dari penanak nasi yang masih terhubung ke stop kontak. Daya listrik yang tersambung di warung sekaligus rumah ibu tiga anak ini sebesar 900 watt.

“Daya 900 watt ini cukup untuk menyalakan televisi tabung 29 inchi, lemari es, penanak nasi dan mesin cuci. Sebulan saya bayar iuran berkisar Rp 50 ribu-Rp 60 ribu,” kata Kusmini.

Baca Juga: Gak ada Kamusnya Ayam Banyak yang Sakit dan Mati, Mungkin anda Belum Pernah Tahu Bahan Herbal ini

Ia mengaku listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Telaga Pucung ikut menggerakkan roda perekonomian. Bahkan gangguan sekecil apapun dapat tertangani dengan cepat oleh petugas, sekalipun tengah malam. Selain itu listrik PLTMH mengalir 24 jam tanpa ada kekhawatiran terjadi pemadaman secara tiba-tiba. Jika ada pemadaman juga ada pemberitahuan sebelumnya.

Lain halnya jika menyambung listrik ke PLN, pemadaman bisa terjadi kapan pun dan tanpa ada pemberitahuan. Karena itu, Kusmini berharap PLTMH tetap dipertahankan sehingga PLN enggan melakukan sambungan listrik di Kalipondok.

Sunarto (49), salah satu perintis PLTMH Telaga Pucung mengatakan, listrik pembangkit mikro hidro mampu menggerakkan roda perekonomian warga Kalipondok. Sekitar 80 persen usaha warga bergantung dengan listrik, bahkan sebagian besar telah merambah pemasaran online. Berkat listrik dari pembangkit mikro hidro, ia bisa menjalankan usaha fotokopi, menjual aneka makanan beku dan minuman dingin. Tagihan listrik di rumah dari pemakaian lemari es, freezer dan mesin fotokopi dalam sebulan rata-rata Rp 100.000.

“Kami sempat hidup tanpa listrik sama sekali, sekira tahun 1980-an, hanya lampu minyak yang menjadi penerangan di malam hari,” kata Sunarto.

Sekretaris Desa Karangtengah, Agus Sulistyono dan Ketua PLTMH Telaga Pucung, Zeanal mengecek turbin. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Turbin Swadaya

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X