Mikro Hidro Gerakkan Roda Kemandirian Energi Warga di Lereng Slamet (1)

- Sabtu, 3 Desember 2022 | 19:47 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dusun Pesawahan Desa Gununglurah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dusun Pesawahan Desa Gununglurah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (suaramerdeka.com/Hartatik)

SEBULAN terakhir Dusun Pesawahan di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kembali gelap gulita. Kondisi ini sama persis seperti 12 tahun silam, sebelum ada Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memasok kebutuhan listrik lebih dari 100 kepala keluarga (KK) di sana.

Warsito (56), Kepala Dusun Satu mengungkapkan, ada kerusakan laher pada kincir PLTMH. Saat ini, pihak operator masih mencarikan pengganti suku cadang yang rusak tersebut. Meski begitu, warga Pesawahan tidak ingin meninggalkan PLTMH. Sementara waktu, mereka justru rela gelap gulita pada malam hari ini semata untuk mempertahankan PLTMH agar tidak mangkrak.

“Kami masih menunggu kiriman suku cadang laher dari Bogor. Mudah-mudahan segera datang dan listrik (PLTMH) bisa nyala lagi,” ungkap Warsito, Senin (7/11).

Desa Gununglurah merupakan salah satu desa di kaki Gunung Slamet yang mendapat bantuan proyek PLTMH melalui program desa mandiri energi, inisiasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. Selain Gununglurah, ada beberapa desa terpencil yang mendapat bantuan serupa, yakni di Desa Karangtengah, Sambirata dan Sokawera.

Di Desa Gununglurah ada sekitar 128 KK yang mampu memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri berkat PLTMH. Mereka tersebar di Dusun Pesawahan ada 112 KK, dan sisanya 16 KK di Dusun Rinjing. PLTMH pertama kali dibangun di Dusun Pesawahan pada 2010 dengan kapasitas 25 Kilowatt (KW). Dengan kapasitas tersebut, PLTMH mampu mencukupi kebutuhan listrik baik untuk penerangan, televisi bahkan kulkas dan mesin cuci. Semuanya kebutuhan rumah tangga tercukupi dengan suplai listrik dari PLTMH setempat

Selang dua tahun kemudian, PLTMH berdiri di Dusun Rinjing, berkapasitas 15 Kw. Kedua PLTMH tersebut mengandalkan aliran deras Sungai Mengaji sebagai sumber energi listrik.

“Dusun Pesawahan memanfaatkan aliran deras Sungai Mengaji di hulunya, sedangkan Dusun Rinjing di hilirnya sungai.”

Menurut Warsito, sebelum ada PLTMH atau sekira 1996, warga kedua dusun itu menggunakan kincir air atau turbin yang dihubungkan ke dinamo untuk menghasilkan listrik. Hampir setiap rumah memiliki kincir air hingga 2 unit yang dipasang di sepanjang aliran sungai.

Meski listrik yang dihasilkan turbin kayu ini maksimal hanya sekitar 1 Ampere atau setara 220 Watt, warga sudah senang lantaran rumah mereka tidak lagi gelap di malam hari. Apalagi Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih enggan masuk ke dusun yang dikelilingi hutan lindung negara dan hutan produksi pinus tersebut.

Hanya saja kelemahan turbin kayu ini adalah aliran listriknya tidak stabil. Lalu jika ada sampah ataupun air sungai mengalir terlalu deras juga bisa membuat turbin mudah rusak. Mereka pun harus rutin mengecek dan mengganti turbin.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X