Terlalu Dipaksakan, Pakar Sepakat Pelabelan BPA Galon Guna Ulang Tidak Diperlukan

- Sabtu, 3 Desember 2022 | 05:40 WIB
Ilustrasi kemasan air minum galon guna ulang  (Pixabay)
Ilustrasi kemasan air minum galon guna ulang (Pixabay)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Wacana pelabelan Bisfenol A (BPA) yang hanya diterapkan terhadap galon guna ulang yang kini sangat gencar disosialisasikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dinilai terlalu dipaksakan.

Pakar-pakar lintas universitas dan lintas keilmuan terdiri dari pakar kesehatan, polimer, persaingan usaha, dan kebijakan publik sepakat menyuarakan bahwa kebijakan itu tidak perlu dilakukan. 
 
Hal itu tercetus dalam sebuah diskusi media “Polemik Pelabelan BPA AMDK Galon” yang diselenggarakan Orbit Indonesia di Jakarta, belum lama ini. 

Baca Juga: Komplit! Ini Dia Tim yang Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2022, Catat Juga Jadwal Laganya

Dr. Hermawan Saputra, SKM, MARS., CICS, yang merupakan Pakar Kesehatan Masyarakat UHAMKA mengatakan, labelisasi BPA itu menjadi suatu keharusan kalau memang sudah ada evidence based-nya atau ada bukti bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang itu sudah  mengganggu aspek kesehatan.

“Kalau belum ada bukti, seharusnya BPOM tidak perlu membuat panik masyarakat dengan adanya kebijakan yang bisa pro bisa kontra, dan bisa jadi akan mengganggu iklim persaingan usaha dan membuat kegamangan masyarakat itu sendiri,” ujar Ketua Terpilih Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) itu.
 
Dia mengatakan para ahli yang membuat kemasan galon guna ulang itu juga pasti sudah sangat memahami soal keamanan kemasan polikarbonat yang berbahan BPA itu.

Baca Juga: Bak Drama Korea, Usaha Timnas Korea Selatan Lolos Fase Grup Juga Penuh Haru Dan Menguras Emosi, Selamat Oppa!

Jadi, mereka merekomendasikannya untuk digunakan sebagai kemasan AMDK.

Karenanya, dia meminta agar ketika berbicara mengenai dampak terhadap kesehatan masyarakat, jangan sampai itu dipakai hanya untuk menentukan sikapnya sendiri. 

“Karena, masyarakat itu asimetris informasi, orang yang tidak paham utuh tentang apa yang dikonsumsi tapi mereka membutuhkan sesuatu yang dibutuhkan oleh keseharian yang menjadi bahan pokok,” tukasnya.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2022: Kalahkan Portugal 2-1, Korea Selatan Melaju ke 16 Besar Piala Dunia
 
Dia menegaskan dalam Peraturan Badan POM nomor 20 tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, itu sudah diatur mengenai batas maksimal migrasi senyawa tertentu yang terkandung dalam pengemasan kepada substansi atau materi bahan pangannya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X