JETP, Solusi Pendanaan atau Jebakan Utang Lepas dari Candu Batubara?

- Kamis, 24 November 2022 | 19:22 WIB
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat konferensi pers penutupan KTT G20 di Bali International Convention Center, Rabu (16/11/2022). (SM/Hartatik)
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat konferensi pers penutupan KTT G20 di Bali International Convention Center, Rabu (16/11/2022). (SM/Hartatik)


NUSA DUA, BALI- Udara panas dan kotor karena debu, belum lagi suara bising mesin pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang beroperasi 24 jam menjadi keseharian tidak hanya I Ketut Mangku Wijana, tapi juga warga di Desa Celukan Bawang, Gerokgrak, Buleleng, Bali.

Bahkan, seumur hidupnya, ia belum pernah melihat pohon kelapa meranggas.

Seperti beberapa tahun terakhir setelah PLTU dibangun.

“Dampak proyek ini sangat jelas buruk, baik saat ini maupun dalam jangka panjang.”

Hidup di sekitar PLTU, seperti di Celukan Bawang, membuat kondisi warga sulit.

Baca Juga: Siap Hadapi Resesi, Ini 8 Budidaya Tanaman yang Bisa Bikin Jadi Jutawan, Salah Satunya Paprika

Hidup bersama polusi udara, dan bising mesin PLTU. Kesehatan pun terancam.

Produktivitas tanaman pertanian warga menurun, bahkan mati setelah setiap hari terkena debu dari operasi pembangikit batubara.

Seperti Surayah, tak lagi bertani karena tanaman padi miliknya mati, sehingga kini hanya pelihara sapi.

Nelayan pun makin sulit tangkap ikan. Ikan-ikan di tepian tak lagi seperti dulu.

Halaman:

Editor: Hendra Setiawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X