Inilah Sururi, Petani Mangrove Binaan Bakti Lingkungan Djarum Foundation yang Perangi Abrasi di Mangkang

- Kamis, 24 November 2022 | 16:09 WIB
Sururi; Petani Mangrove Binaan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (SM/Wahyu Asyari Muntoha)
Sururi; Petani Mangrove Binaan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (SM/Wahyu Asyari Muntoha)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pria ini adalah Sururi, sebagai ketua pusat budidaya pembibitan, konservasi dan pendidikan Mangrove.

Yang letaknya di Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Sejak 1995, dirinya telah berjuang untuk melawan abrasi pesisir pantai di wilayahnya.

Caranya? Saat itu hanya melakukan penanaman mangrove, dengan mendatangkan bibit dari Rembang dan Pemalang.

Hal ini terus dilakukan, hingga 5 tahun berselang Mangrove berbuah dan siap untuk dibuat bibit sendiri.

Baca Juga: Mungkinkah Rezeki Kita Tertukar Dengan Orang Lain? Dia Yang Kaya, Tapi Aku Tetap Miskin

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melihat perjuangan Sururi dan mensupport penuh usahanya kemudian.

"Sejak 2008 kami bekerja sama dengan program Trees for Life dari BLDF," ujarnya.

Kerjasama tersebut, bahkan berlangsung hingga saat ini.

Setidaknya, BLDF membeli 5.000 bibit setiap bulannnya.

Trees for Life juga sering mendatangkan tamu, baik dari Nasional dan Internasional untuk ikut berpartisipasi dalam penanaman di wilayah tersebut.

Baca Juga: Fatayat Banyumanik Gelar LKD untuk Cetak Kader NU Militan

Sururi lantas membuat kelompok kerja beranggotakan 11 orang yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing.

Selain menanam dan pembibitan, ia kini merambah ke pendidikan, dimana membuat edukasi ke pihak lainnya tentang budidaya Mangrove.

Untuk mensupport unit usahanya, Sururi juga melakukan penjualan bibit ke pihak luar.

Bibit karya kelompok 'Mangrove Lestari' sudah tersebar di berbagai wilayah, diantaranya Batang, Rembang, Jepara, Parangtritis, hingga Probolinggo.

Satu batang bibit Mangrove, dihargai Rp2.000.

Baca Juga: Parade Desainer di Salatiga Kita Dimeriahkan Bayu Ramli

Nilai ini naik dari yang sebelum pandemi berkisar Rp1.200-1.500.

"Biaya-biaya lain naik, seperti transportasi dan modal, sehingga harga ikut menyesuaikan," terang Sururi.

Ia mengatakan, penanaman Mangrove memiliki tingkat keberhasilan yang rendah.

Karena hanya 50-60% saja yang dapat terus tumbuh dan tidak mati.

Gagal tumbuh ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor.

Baca Juga: Duh! Saat Makan Lupa Baca Basmallah? Harus Gimana dong, Bisa Diganti Doa Ini...

Seperti, gelombang, faktor alam curah hujan, air pasang terlalu tinggi, faktor manusia, ketam kecil, dan kambing liar.

Sisanya? Harus di tanam ulang agar bisa menjadi bibit kembali.

Untuk proses penyemaian hingga mrnjadi bibit memerlukan waktu 3 bulan.

Sisa tanaman yang rusak, agar menghasilkan nilai ekonomi dibuat untuk bahan lainnya.

Di wilayah tersebut, ia juga menginisiasi program pemanfaatan Mangrove yang tidak lolos qc/rusak.

Baca Juga: Uruguay vs Korea Selatan: Kondisi Tim dan Prakiraan Susunan Pemain

Yakni dimanfaatkan untuk membuat tepung, kerupuk, pewarna sirup, hingga bahan pewarna untuk batik.

Kelompok Batik dimulai dari 2005, yang terdiri dari ibu rumah sekitar penuh semangat mengikuti program.

Satu kelompok terdiri dari 8-10 orang yang bekerja untuk membatik sesuai dengan pesanan.

Saat ini setidaknya ada 3 kelompok yang ada di wilayah tersebut.

Per lembar kain 2x1 meter batik canting, dijual dengan harga Rp. 500.000.

Harga tersebut ditentukan karena membatik canting memerlukan waktu lama dan lebih sukit.

Baca Juga: Jangan Membujang, Segera Menikah, Martabat dan Kehormatan Akan Terjaga

Dalam 1 bulan, satu orang hanya bisa memproduksi satu lembar batik.

Jika menggunakan metode cap, bisa mencapai 65 kain tiap bulannya.

Namun tentunya, harga batik cap lebih murah, yakni dijual diangka Rp350.000.

Batik ini menggunakan bahan premium premis, sehingga warna tidak luntur ketika dicuci.

Halaman:

Editor: Wahyu Asyari Muntoha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X