Menkes Sebut Permintaan Obat Terapi Covid-19 Tinggi Namun Tidak Sebanding Kecepatan Produksi

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 14:19 WIB
Obat terapi covid-19 (Cun Cahya)
Obat terapi covid-19 (Cun Cahya)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan ketersediaan obat terapi Covid-19 sering dipertanyakan masyarakat.

Menurutnya kebutuhan obat terapi Covid-19 dari 1 Juni 2021 meningkat signifikan.

Namun sayangnya kenaikan tersebut tidak sebanding dengan kecepatan produksi obat karena harus melalui berbagai proses.

Baca Juga: Sasaran Indikator Pengendalian Covid-19 Harus Terukur dan Jelas

''Kebutuhan itu naiknya luar biasa, jadi pada saat kebutuhan obat mulai naik teman-teman di pabrik (produsen obat) itu meningkatkan bahan bakunya. Mereka menghitung kira-kira tambah bahan baku 4 kali, begitu bahan baku diproses kebutuhan obat naiknya sudah 8 kali, kemudian bahan baku obat dinaikkan lagi dan diproses, kebutuhan obatnya sudah naik lagi jadi 12 kali,'' kata Menkes dalam konferensi pers secara virtual, Senin 2 Agustus 2021.

Menkes menjelaskan keterlambatan stok dikarenakan dari mulai produksi sampai obat jadi, dari impor bahan baku, proses produksi, kemudian distribusi ke seluruh apotek itu butuh waktu sekitar 4 sampai 6 minggu.

Namun demikian saat ini telah bertambah stok obat hasil produksi dalam negeri dari Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi dan Kementerian Kesehatan juga bekerja sama dengan rumah sakit untuk melakukan uji klinis beberapa terapi dengan menggunakan beberapa obat baru.

Baca Juga: Mabes Polri Serahkan Pemeriksaan Perkara Donasi Akidi Tio ke Polda Sumsel

Menkes berharap mudah-mudahan obat baru tersebut bisa mengurangi tekanan kebutuhan obat-obat impor.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aniaya Teman Karaoke, 2 Pelaku Ditangkap

Jumat, 24 September 2021 | 20:12 WIB
X