KIB Lebih Memilih Pendekatan Program Dibanding Sosok Capres, Pengamat: Sah sah Saja

- Senin, 14 November 2022 | 17:27 WIB
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) tidak ingin buru-buru tentukan Capres untuk Pilpres 2024 (Instagram/@golkar.indonesia)
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) tidak ingin buru-buru tentukan Capres untuk Pilpres 2024 (Instagram/@golkar.indonesia)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) mengklaim fokus untuk menuntaskan pembahasan program kerja koalisi yang terangkum dalam Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional (PATEN).

KIB lebih memilih pendekatan program dibanding pendekatan sosok nama capres.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai sah-sah saja KIB memilih pendekatan program dan belum mendeklarasikan nama calon presiden yang hendak didukung di 2024.

Menurutnya, langkah itu diambil sembari menunggu arahan dari Presiden Joko Widodo.

Baca Juga: Gak Mampu Beli Set Top Box? Buruan WhatsApp Nomor Ini Pesan STB Gratis, Nyesel Kalau Kehabisan

"Itu bagus-bagus saja kalau KIB punya konsep PATEN dan belum mengusung capres-cawapres. Memang tidak akan mengusung capres-cawapres kecuali sudah mendapat restu Jokowi," katanya di Jakarta, hari ini.

Menurutnya, PATEN juga tepat dipakai sebagai program andalan mengingat ekonomi Indonesia masih di bawah ancaman kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak.

Belum lagi, persoalan ekonomi dalam negeri seperti angka pengangguran dan kemiskinan.

"Karena saat ini sedang hancur ekonominya. Banyak yang menganggur, banyak yang tidak bisa makan, banyak yang miskin. Itu perlu pendekatan PATEN, tapi konsepnya harus jelas, harus langsung ke jantung rakyat, rakyat harus menerima. Kalau tidak dirasakan oleh masyarakat, susah," tegasnya.

Baca Juga: Siapa Bilang Mahal? Harga Set Top Box Tetap Ramah di Kantong Masyarakat Mampu, Buruan Beli!

Ujang menegaskan pendekatan program yang dipilih KIB bisa dan cocok diterapkan di Indonesia.

PATEN harus bisa menghasilkan program konkret yang ditujukan dan dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung.

"Soal cocok, cocok saja. Yang penting rakyat bisa merasakan kue pembangunan di republik ini. Jangan hanya elite yang merasakan. Konsep PATEN ini mestinya langsung ke jantung rakyat. Rakyat bisa merasakan kebijakan tersebut," tandasnya.

Menurutnya, isu ekonomi akan mampu dan bisa cukup efektif dalam menaikkan elektabilitas dan popularitas KIB maupun capres yang nantinya diusung ketika mampu ditangkap dan dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Siap siap Menyaksikan Siaran TV Digital, Usai Dapat dan Pasang Set Top Box, Kamu Sudah Dapat STB

"Bisa saja untuk menaikkan elektabilitas KIB. Rumusnya masyarakat merasakan, masyarakat menikmati," jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Senior BRIN Siti Zuhro mengatakan, Indonesia akan memasuki era baru pemilihan umum yang lebih sehat.

Terutama dengan hadirnya calon calon pemimpin yang memiliki visi dan misi, ketimbang menjual persona semata.

“Ini nantinya akan jadi kontestasi yang lebih sehat, karena yang terpilih benar benar qualified, bukan pencitraan. Membanggakan secara nasional dan internasional,” ujar Zuhro.

Baca Juga: Tips Jitu Berantas Rayap, Basmi Dulu Ratunya, Menyusul yang Lain

Terlebih pada pemilu mendatang, mayoritas pemilih adalah dari kalangan milenial yang lebih kritis dan terukur.

“Bukan hanya seperti diberikan cek kosong, tanpa visi dan misi. Kalau tidak ada ya tidak menarik. Dan tidak boleh lagi yang menonjol hal-hal yang sifatnya gimmick-gimmick, apalagi hujatan,” terang Zuhro.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Makassar mengarakan, bahwa sampai hari ini, belum ada parpol di luar KIB menawarkan program ke depan.

"Bahkan, yang sudah melakukan pengumuman (capres) juga belum menyampaikan apa-apa," tutur Airlangga.

Baca Juga: Amankan Kayu dari Serangan Rayap, Ini Tips untuk Antisipasinya

Hanya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang sudah punya program yaitu PATEN, Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional.

“Visi dan misi, program, adalah iming-iming bahwa dia sudah siap menjadi pemimpin,” kata Zuhro.

Dengan kompleksitas masalah yang tengah dihadapi, misalnya perlambatan ekonomi dunia, masih dalam kondisi pandemi Covid, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tangguh.

“Ini menjadi catatan, dengan kompleksitas yang seperti itu, kesiapan dari pemimpin seperti apa sehingga mereka bisa menunjukkan nantinya dia siap untuk dikompetisikan. “ tandas Zuhro.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X