Darurat Bisnis Hotel

Red
- Minggu, 1 Agustus 2021 | 01:27 WIB
SM/ Maulana M Fahmi : HOTEL SEPI: Seorang karyawan menerapkan prokes dengan memeriksa suhu tubuh pengunjung hotel Noormans Semarang, Jl Teuku Umar Semarang, kemarin.
SM/ Maulana M Fahmi : HOTEL SEPI: Seorang karyawan menerapkan prokes dengan memeriksa suhu tubuh pengunjung hotel Noormans Semarang, Jl Teuku Umar Semarang, kemarin.

Waktu itu yang diberikan oleh masingmasing Pemkab/Pemkot, katanya, berupa penundaan bea air bersih dan pajak daerah. Sales Manager Hotel Artotel Semarang, Ajeng Adha, menjelaskan, hotel yang dikelolanya menerima dampak yang tinggi. Selain karena Kota Semarang merupakan zona merah, banyak pelaku bisnis lebih memilih pertemuan secara daring.

Pendapatan Turun

Tingkat hunian hotel atau okupansi juga menurun drastis. Sebelum adanya PPKM, hotel yang terletak di Jalan Gajahmada nomor 101 memiliki okupansi di atas 70%. ”Saat ini menurun menjadi 25%,” tuturnya.

Hal tersebut, kata dia, mengakibatkan turunnya pendapatan hotel. Efeknya adalah pengurangan karyawan yang bekerja. Sales Executive Hotel Citradream Semarang, Vincentia Litha, menjelaskan saat terjadi pandemi pihaknya sempat tutup selama 2 bulan pada April-Mei 2020.

Tiga pekan PPKM sangat memberi dampak terhadap hotel yang terletak di Jalan Imam Bonjol nomor 187 tersebut. ”Lebih rendah saat PPKM ini daripada tahun lalu. Okupansi kami saat ini perhari rata-rata 8% atau sekitar 5-15 kamar,” kata Litha.

Padahal, kata Litha, pada Juni dan sebelumnya, okupansi di 80% ke atas. Kebijakan PPKM membuat semua acara yang digelar di Juli 2021 ditunda.

”Pemesanan kami banyak dilakukan via daring. Peraturan yang mewajibkan tamu untuk menyertakan surat tes Covid-19 juga menyulitkan tamu kami,” terangnya. Pihaknya kemudian bersikap untuk memberi keleluasaan waktu check in dan check out selama masih dalam batas waktu 24 jam.

Tamu juga diberikan gratis sarapan saat mereka menginap lebih dari 2 hari. Harga selama PPKM diberikan sebesar Rp 220 ribu.

”Kami berharap situasi cepat berubah. Jika tidak berubah, semoga tidak, mungkin bisa saja kami menutup hotel untuk sementara waktu seperti yang kami lakukan di tahun sebelumnya,” ucapnya.

Keputusan untuk menutup hotel, kata dia, bukan untuk menyerah, tetapi untuk memaksimalkan dan membersihkan ulang kamar. Hotel Chanti melakukan efisiensi di jam kerja yang dibagi grup.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Sejarah Kata Santri, Begini Pendapat Cak Nur

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:18 WIB

Kemenpora Lunasi Tunggakan LADI ke Laboratorium Qatar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:02 WIB

Anak di Bawah 12 Tahun Kembali Diperbolehkan Naik KA

Jumat, 22 Oktober 2021 | 20:33 WIB
X