Darurat Bisnis Hotel

Red
- Minggu, 1 Agustus 2021 | 01:27 WIB
SM/ Maulana M Fahmi : HOTEL SEPI: Seorang karyawan menerapkan prokes dengan memeriksa suhu tubuh pengunjung hotel Noormans Semarang, Jl Teuku Umar Semarang, kemarin.
SM/ Maulana M Fahmi : HOTEL SEPI: Seorang karyawan menerapkan prokes dengan memeriksa suhu tubuh pengunjung hotel Noormans Semarang, Jl Teuku Umar Semarang, kemarin.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat industri perhotelan makin sekarat. Sejumlah hotel mengibarkan bendera putih. Sebagian lainnya bersiap tutup sementara.

Pandemi yang sudah berjalan di tahun kedua ini tak pelak membuat kalangan pelaku bisnis perhotelan dihadapkan pada satu situasi sulit.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng Heru Isnawan mengatakan, sangat berat bagi hotel untuk bertahan di tengah situasi seperti ini dengan banyaknya pembatasan kegiatan serta orang juga menunda bepergian.

”Akses tol juga ditutup, orang pergi harus PCR dulu dan lainnya. MICE juga tidak boleh, sempurna parahnya kondisi kami,” kata Heru, kemarin.

Heru menandaskan, banyak hotel yang sebagian besar terpaksa tutup atau berpindah kepemilikan. Operasional kamar pun juga dibatasi serta karyawan yang masuk juga digilir.

”Daily workersudah ditiadakan. Yang masuk kerja praktis ya gajinya mengikuti persentase kerjanya,” jelasnya. Dijelaskan Heru, tahun lalu bantuan hibah pernah diberikan dari pemerintah. ”Tapi dapatnya berdasarkan pajak hotel yang dibayarkan.

Jadi yang hotel besar dapat besar yang kecil dapatnya juga kecil. Kalau yang sekarang ini baru diminta data hotel yang mau ketempatan nakes,” imbuhnya. Sementara itu di Jateng menurut Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Sinoeng N Rachmadi, ada 1.080 hotel, baik Bintang maupun non bintang yang okupansi rata-rata 5% - 7 %.

”Dalam pelaksanaan kebijakan PPKM Darurat yang dimulai 3 Juli dan PPKM Level 3 dan 4, perhotelan mematuhi kebijakan tersebut,” katanya.

Sinoeng menuturkan pihaknya sudah mengajukan usulan untuk memberikan stimulan untuk pelaku industri pariwisata.

”stimulasi pelaku industri pariwisata, khususnya perhotelan sudah pernah kami ajukan waktu 2020 berupa keringanan bea listrik, namun belum ada persetujuan,” tutur dia.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Dibentuk

Selasa, 21 September 2021 | 01:06 WIB

Bank Dunia Puji Vaksinasi Indonesia

Selasa, 21 September 2021 | 00:47 WIB

Apakah Uang bukan Sumber Kebahagiaan? Ini Alasannya

Senin, 20 September 2021 | 23:21 WIB

PKL Malioboro Terima Bansos Sembako

Senin, 20 September 2021 | 20:43 WIB

Ecofarming Tekan Biaya Produksi Hingga 70 Persen

Senin, 20 September 2021 | 16:40 WIB
X