Komunikator

Red
- Minggu, 1 Agustus 2021 | 01:17 WIB
Gayeng Bareng Oleh Sasongko Tedjo
Gayeng Bareng Oleh Sasongko Tedjo

Sugeng enjang sedherek-sedherek Tiba-tiba saya kok teringat Pak Harmoko.

Menteri Penerangan yang fenomenal di masa Orde Baru, yang belum lama ini wafat, itu pada masanya menjadi menteri yang paling banyak tampil di layar kaca.

Gaya bicaranya khas, sisiran rambutnya yang klimis pun masih melekat dalam ingatan. Semua pemirsa menunggu kalimat demi kalimat yang disampaikan.

Tentang kebijakan pemerintah dan apa “petunjuk bapak presiden” yang harus dilaksanakan.

Beberapa tahun lalu sebelum sakit, Pak Harmoko masih suka menengok yayasan kebudayaannya di Wonogiri dan mampir makan Soto Bangkong di Semarang. Saya sering ditelpon untuk diajak menemani.

Ternyata banyak yang masih mengenal dan meminta foto bareng termasuk pelayan restoran.

Padahal mereka umumnya relatif muda yang saya perkirakan, ketika Pak Harmoko banyak nongol di TV baru, duduk di bangku sekolah dasar.

Memang pada masa itu banyak juga yang nyinyir dengan menyebut Harmoko itu “hari hari omong kosong”. Suatu ketika hal itu saya tanyakan ke beliau, tentu sambil berkelakar, Pak Harmoko pun terkekeh sambil membantah.

Lho Harmoko itu “hari hari omong komunikasi”. Hahaha.

* * *

Mengapa kok tiba tiba teringat sosok komunikator ulung itu? Karena sekarang ini kita merasakan kehilangan figur pejabat yang hebat cara berkomunikasinya.

Hari hari ini di media kita justru makin dibingungkan oleh model komunikasi khususnya terkait dengan penanganan Covid 19.

Coba tonton televisi. Yang tampil menjelaskan soal covid atas nama Tim Satgas Nasional berganti ganti dan banyak sekali.

Ekspresi mereka datar dan lebih banyak membaca. Tak ada impresi sehingga membosankan.

Mungkin saja materinya lebih banyak data atau terlalu teknis yang sebenarnya bisa diakses di website.

Padahal masyarakat sebenarnya menanti dan membutuhkan apa perkembangan terpenting dan terbaru. Pada awal awal Covid, lebih setahun lalu, hanya ada satu juru bicara Tim Satgas Covid yakni Ahmad Yurianto. Sesekali Ketua BNPB Doni Monardo tampil. Lama lama karena setiap sore memberikan update, kejenuhan terasa.

Muncul kemudian wajah dr Reisa yang cantik yang bisa menjadi penyejuk di tengah situasi yang makin meresahkan. Tidak lama kemudian ganti jurubicara yang lain dan yang lain lagi.

Aduh pusing. Mulai awal tahun ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menkes Budi Gunawan yang banyak memberikan laporan perkembangan dan memaparkan kebijakan. Tapi begitu Jawa Bali dinyatakan darurat datanglah “panglima” baru yakni Menko Luhut Panjaitan dengan “gaya militernya” yang tegas kadang setengah mengancam. Kerancuan komunikasi makin memuncak ketika masyarakat dibingungkan tentang perpanjangan PPKM darurat yang berakhir tanggal 20 Juli.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko PMK Muhajir Efendi sudah keceplosan di media bahwa akan diperpanjang sampai akhir bulan. Pak Luhut buru buru menjelaskan, perpanjangan menunggu hasil evaluasi. Akhirnya Presiden Jokowi sendiri yang tampil di televisi mengumumkan perpanjangan tapi hanya sampai tanggal 25 Juli.

Tampaknya itu jalan tengah biar tidak “dipermalukan” karena akhirnya toh diperpanjang lagi sampai 2 Agustus.

* * *

Ahli komunikasi Mc Quail’s dulu sering wanti-wanti soal tidak mudahnya komunikasi yang terkait massa.

Ada peran penting sender agar bisa diterima receiver yang harus melalui proses transmisi. Maka selain materi, teknik berkomunikasi sangat penting. Maaf, rasanya dalam kaitan penanganan Covid ini banyak yang perlu diperbaiki dalam proses komunikasi ke publik.

Banyak pesan tak sampai karena kelemahan jurubicara yang sering berganti dan tak diketahui siapa yang seharusnya lebih berwenang. “Akhir akhir ini saya malah banyak menonton CNN. Terlalu banyak penjelasan satgas malah makin bingung” kata salah mantan pejabat tinggi. Menko Polhukam Mahfud MD malah mengaku senang nonton sinetron Ikatan Cinta di masa pandemi. Hehehe. Komunikasi massa terkait Covid makin kedodoran dengan perubahan perubahan kebijakan.

Banyak pula muncul istilah baru yang sulit dimengerti. Dulu ada lockdown dan PSBB sekarang sudah sampai ke PPKM. Yang terakhir malah muncul istilah level. Ada level 3, level 4 seperti pilihan rasa pedas makanan di restoran. “Ah jangan jangan pejabat yang menjelaskan itu juga tidak mengerti benar”, seloroh seorang teman.

* * *

Buruknya komunikasi bisa juga menjadi cermin kelemahan dalam manajemen dan pengorganisasian. Siapa sih komandannya kok banyak sekali. Akhirnya mau tak mau sampai ke soal kepemimpinan. Belum lagi terkait koordinasi sampai ke daerah.

Monggo sedherek sedherek, kita tentu salut dan berterima kasih atas kerja keras pemerintah di bawah komando langsung Pak Jokowi. Terlihat upaya maksimal dan total dalam memerangi Covid ini. Masyarakat pun bergerak dan tergerak. Ada yang bikin dapur umum sampai keliling di jalan sambil membagikan uang sehingga jadi viral. Baru pertama kali pula dalam sejarah seorang konglomerat menyumbang sampai Rp 2 triliun untuk perang melawan Covid ini.

Rrruuuuar biasa. Tapi kunci utamanya tetap leadership dan organisasi yang jelas. Dan semua itu harus ditunjang proses komunikasi massa yang efektif. Kita mesti kembali ke laptop, seperti kata Tukul, bahwa ini adalah persoalan pandemi yang berdampak ekonomi. Bukan sebaliknya. Kepareng rumiyin. (21)

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Sejarah Kata Santri, Begini Pendapat Cak Nur

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:18 WIB

Kemenpora Lunasi Tunggakan LADI ke Laboratorium Qatar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:02 WIB

Anak di Bawah 12 Tahun Kembali Diperbolehkan Naik KA

Jumat, 22 Oktober 2021 | 20:33 WIB
X