Komunikator

Red
- Minggu, 1 Agustus 2021 | 01:17 WIB
Gayeng Bareng Oleh Sasongko Tedjo
Gayeng Bareng Oleh Sasongko Tedjo

* * *

Ahli komunikasi Mc Quail’s dulu sering wanti-wanti soal tidak mudahnya komunikasi yang terkait massa.

Ada peran penting sender agar bisa diterima receiver yang harus melalui proses transmisi. Maka selain materi, teknik berkomunikasi sangat penting. Maaf, rasanya dalam kaitan penanganan Covid ini banyak yang perlu diperbaiki dalam proses komunikasi ke publik.

Banyak pesan tak sampai karena kelemahan jurubicara yang sering berganti dan tak diketahui siapa yang seharusnya lebih berwenang. “Akhir akhir ini saya malah banyak menonton CNN. Terlalu banyak penjelasan satgas malah makin bingung” kata salah mantan pejabat tinggi. Menko Polhukam Mahfud MD malah mengaku senang nonton sinetron Ikatan Cinta di masa pandemi. Hehehe. Komunikasi massa terkait Covid makin kedodoran dengan perubahan perubahan kebijakan.

Banyak pula muncul istilah baru yang sulit dimengerti. Dulu ada lockdown dan PSBB sekarang sudah sampai ke PPKM. Yang terakhir malah muncul istilah level. Ada level 3, level 4 seperti pilihan rasa pedas makanan di restoran. “Ah jangan jangan pejabat yang menjelaskan itu juga tidak mengerti benar”, seloroh seorang teman.

* * *

Buruknya komunikasi bisa juga menjadi cermin kelemahan dalam manajemen dan pengorganisasian. Siapa sih komandannya kok banyak sekali. Akhirnya mau tak mau sampai ke soal kepemimpinan. Belum lagi terkait koordinasi sampai ke daerah.

Monggo sedherek sedherek, kita tentu salut dan berterima kasih atas kerja keras pemerintah di bawah komando langsung Pak Jokowi. Terlihat upaya maksimal dan total dalam memerangi Covid ini. Masyarakat pun bergerak dan tergerak. Ada yang bikin dapur umum sampai keliling di jalan sambil membagikan uang sehingga jadi viral. Baru pertama kali pula dalam sejarah seorang konglomerat menyumbang sampai Rp 2 triliun untuk perang melawan Covid ini.

Rrruuuuar biasa. Tapi kunci utamanya tetap leadership dan organisasi yang jelas. Dan semua itu harus ditunjang proses komunikasi massa yang efektif. Kita mesti kembali ke laptop, seperti kata Tukul, bahwa ini adalah persoalan pandemi yang berdampak ekonomi. Bukan sebaliknya. Kepareng rumiyin. (21)

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X