Lapisan Masyarakat Indonesia Beragam, Alasan Pemerintah Terapkan PPKM

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:02 WIB
PPKM Darurat (foto: pikiran rakyat) (Jati Prihatnomo)
PPKM Darurat (foto: pikiran rakyat) (Jati Prihatnomo)


JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah memiliki alasan tertentu menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di tengah COVID-19 dibanding lockdown seperti negara lain.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengakui sempat terjadi perdebatan, meski keduanya memiliki esensi yang sama, yaitu pembatasan kegiatan ekonomi

"Jadi memang sempat ada perdebatan, tetapi esensinya yang terjadi dari keduanya adalah pembatasan kegiatan ekonomi," ungkap Suahasil dalam diskusi daring di Jakarta, Sabtu.

Alasan utama penerapan PPKM, diungkapkan Suahasil, karena lapisan masyarakat di Indonesia yang sangat beragam, seperti terdapat kelompok masyarakat miskin atau rentan dan kaya, ada pula kelompok masyarakat yang berada di perkotaan maupun pedesaan, dengan kemampuan ekonomi berbeda-beda.

Baca Juga: Apresiasi Vaccine Nationalism, Menko Airlangga: Indonesia Harus Bangga Vaksin Dalam Negeri

Menilik sektor keuangan di Indonesia, terlihat dinamika lapisan masyarakat Indonesia, yang terlihat dari jumlah tabungan di bawah Rp1 juta dan di atas Rp10 juta.

Ia menjelaskan, masyarakat dengan tabungan di bawah Rp1 juta sudah mulai menarik uangnya untuk kebutuhan sehari-hari di tengah COVID-19, sedangkan nilai tabungan di atas Rp10 juta justru meningkat di tengah pandemi.

Dalam konteks yang beragam itu, pemerintah pun menyiapkan berbagai bantuan bagi masyarakat yang memerlukan, terutama untuk orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tetapi masyarakat yang memerlukan bantuan dan hidup di atas garis kemiskinan juga perlu dibantu.

Baca Juga: Vaksinasi 5 Aliansi BEM Nasional di UIN Mas Said Surakarta, Kapolda: Persiapan PTM

Oleh karena itu, tambah dia, pemerintah menyiapkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta keluarga dan Kartu Sembako kepada 18,8 juta keluarga, meski masyarakat yang berada di garis kemiskinan hanya sekitar 6,5 juta keluarga.

Selain itu, terdapat pula Bantuan Sosial Tunai (BST) untuk 10 juta keluarga hingga bantuan tunai dari dana desa yang diberikan sesuai dengan ketentuan desa itu sendiri.

Untuk itu, ia menegaskan, pemerintah terus memikirkan bagaimana menciptakan satu set kebijakan untuk membantu masyarakat sesuai dengan lapisannya di tengah pandemi.

"Negara kita bukan negara kecil, ada 270 juta penduduk dengan 34 provinsi yang karakteristiknya beda-beda. Ini yang perlu kita perhatikan, setiap level pemerintahan perlu memperhatikan dengan baik," tutup Suahasil.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X