Apresiasi Vaccine Nationalism, Menko Airlangga: Indonesia Harus Bangga Vaksin Dalam Negeri

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 14:18 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjadi narasumber dalam acara Evaluasi Penerapan PPKM Berjenjang. (suaramerdeka.com / dok)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjadi narasumber dalam acara Evaluasi Penerapan PPKM Berjenjang. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya vaccine nationalism, sehingga Indonesia memiliki kemampuan membuat vaksin sendiri sebagai kebutuhan untuk dalam negeri.

Menurutnya lewat vaccine nationalism kebutuhan vaksin Indonesia akan terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Bahkan warga Indonesia harus bangga terhadap vaksin dalam negeri.

Airlangga pun mengapresiasi vaksin yang diinisiasi oleh Universitas Airlangga (Unair) dan Lembaga Eijkman diharapkan bisa dipercepat sehingga tahun depan Indonesia tidak lagi tergantung pada vaksin produksi luar negeri.

Diharapkan vaksin itu segera masuk tahap uji coba Makaka (pengujian ke hewan).

“Yang sekarang terjadi adalah vaccine nationalism, dimana vaksin ini prioritas diberikan kepada negara masing-masing. Bahkan juga terjadi vaksin biopolitik. Misalnya untuk ke China, saat ini harus menggunakan vaksin China dan untuk ke Eropa harus menggunakan vaksin Eropa. Tangan kita mungkin harus disuntik lebih dari dua kali, tergantung mau pergi kemana,” tutur Airlangga dalam peluncuran Gerakan Aksi Bersama Serentak Tanggulangi (Gebrak) Covid-19 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Uniar) digelar secara virtual, Jumat 30 Juli 2021.

Baca Juga: Indra Herlambang Berikan Tips Selaraskan Studi dan Passion

Airlangga menambahkan adanya percepatan kerja sama dengan Biotis, yang akan masuk bulan Agustus prihal penelitian cara membuat obat yang baik oleh BPOM, maka Indonesia akan mempunyai double engine, tidak hanya berbasis BUMN, tapi juga kerja sama perguruan tinggi dengan pihak swasta.

“Pemerintah berharap pada Eijkman dan Unair, dan beberapa perusahaan lain di dalam negeri untuk segera menciptakan vaksin dalam negeri,” ujar Airlangga.

Pemerintah Indonesia, lanjut Airlangga juga mendorong ke WHO bahwa vaksinasi tidak boleh dipolitikkan.

Untuk program vaksinasi, Airlangga menjelaskan jika saat ini sudah mencapai sekitar 67 juta dosis yaitu dosis pertama 47 juta dan dosis kedua 20 juta dosis.

Pada Juli ini target pemerintah sendiri adalah 30 juta dosis vaksin sehingga membuat adanya supply and demand yang tidak balance.

Namun di bulan Agustus dengan adanya stok yang bertambah berharap bisa segera diatasi permintaan vaksin di Jawa dan luar Jawa.

“Seusai instruksi dari Bapak Presiden, maka vaksinasi ini akan ditingkatkan dari 1 juta menjadi 2 juta, kalau ingin mencapai herd imunity sebesar 70 persen dari target vaksinasi pada akhir tahun ini,” kata Airlangga.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

LRT Kecelakaan di Cibubur, Diduga Human Error

Senin, 25 Oktober 2021 | 20:52 WIB
X