Bea Cukai Tanjung Emas Temukan Paket 2,9 Kilogram Narkoba Kiriman Dari Malaysia

- Rabu, 5 Oktober 2022 | 11:30 WIB
Temuan Bea Cukai Tanjung Emas paket narkoba 2,9 kilogram kiriman dari Malaysia. (suaramerdeka.com/Dok)
Temuan Bea Cukai Tanjung Emas paket narkoba 2,9 kilogram kiriman dari Malaysia. (suaramerdeka.com/Dok)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Kantor Bea Cukai Tanjung Emas mendapati temuan paket narkoba seberat 2,9 kilogram, yang disembunyikan dalam dua jeriken kiriman dari Malaysia.
 
Dua jeriken itu disebutkan berisi cairan latex, dan setelah diteliti di dalamnya terdapat bungkusan kristal bening yang merupakan narkoba.
 
Kepala Kantor Bea Cuka Pelabuhan Tanjung Emas Anton Martin mengatakan barang kiriman dari Malaysia itu, rencananya akan dikirim ke Lumajang Jawa Timur.
 
 
Anton menjelaskan, dari hasil uji narkotes didapati jika kristal bening itu merupakan narkoba golongan satu atau sabu.
 
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti bersama tim BNNP Jawa Tengah, dengan mencari penerima paket tersebut.
 
Menurut Anton, hasil penelusuran penerima paket diketahui berinisial AF dan ditangkap di dekat Pasar Randuagung Lumajang.
 
 
Pengakuannya, hanya diminta untuk menerima paket kiriman dari NHS yang sejatinya NHS masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).
 
"Kami mengidentifikasi ada barang kiriman, pindahan dari TKI Malaysia yang secara profile itu high risk kemudian dilakukan pendalaman petugas di lapangan," kata Anton, kemarin.
 
Dengan melakukan pemindaian secara X-ray, termasuk menggunakan K-9 yang dimiliki DJP BC Jateng-DIY dari dua jeriken tersebut secara indikasi diduga mengandung narkoba.
 
 
Lebih lanjut Anton menjelaskan, NHS merupakan bagian dari jaringan Madura yang menggunakan wilayah Jateng sebagai basis transit kiriman narkotika melalui jalur laut dari Malaysia.
 
"Kami bersama BNNP Jawa Tengah akan terus bersinergi dan berkolaborasi, dalam meningkatkan pengawasan sebagai langkah preventif untuk menekan masuknya narkotika ke wilayah Indonesia," jelasnya.
 
Kabid Brantas BNN Jateng Kombes Arief Dimjati menambahkan, penggagalan tersebut berawal dari informasi yang diterima jajarannya.
 
 
Informasi itu menyebutkan ada paket berisi sabu yang transit di terminal peti kemas.
 
"Pengungkapan kasus ini hasil sinergi dan kolaborasi para penegak hukum. Informasi dari kawan-kawan Bea Cukai, dapat info dari perusahaan ekspedisi dan dilakukan pengecekan," ujar Arief.
 
Arief menjelaskan, tersangka ternyata masih mempunyai kaitan pada pengiriman sabu seberat lima kilogram pada Oktober 2021 dan disematkan pada lukisan kaligrafi.
 
 
"Waktu itu paket tidak diambil. Dan 11 bulan kemudian, jaringan yang sama dengan rute Malaysia-Semarang-Madura kembali beroperasi," imbuhnya.
 
Atas tindakan tersangka, dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.

Editor: Modesta Fiska

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X