Mengalirnya Air Mata Catherine Pandjaitan bersama Darah Ayahnya di Malam Tragis

- Sabtu, 24 September 2022 | 13:25 WIB
Brigjen DI Panjaitan. (foto: booklikes.com)
Brigjen DI Panjaitan. (foto: booklikes.com)

JAKARTA,suaramerdeka.com - Tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, menjadi detik-detik yang sangat memilukan bagi keluarga korban G30S PKI, termasuk di rumah Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan atau DI Panjaitan.

Peristiwa tragis yang disaksikan langsung oleh salah satu putrinya, Catherine Panjaitan dan Tuthy Kamarati Pandjaitan.

Mereka yang masih berusia belia harus menyaksikan dengan mata kepala nya dan menerima kenyataan bahwa ayah mereka, Brigjen DI Panjaitan telah meninggal dengan cara yang sangat tragis.

Berikut kesaksiannya yang telah dirangkum tim suaramerdeka.com dari berbagai sumber:

Baca Juga: Bersyukurlah 4 Zodiak Ini, Hidupnya Terhimpit Keberuntungan, Rezeki dan Cuan Mengucur Non Stop

Dengan berseragam lengkap serta dalam posisi berdoa, Brigjen DI Panjaitan harus gugur dibawah senapan para penculik.

Luka ini tentu tidak mudah untuk dilupakan, terutama bagi anak-anaknya yang menjadi saksi mata.

Mereka hanya mampu menangisi kepergian ayah mereka dari jauh.

Melihat sang ayah bersimbah darah di depan matanya, tentu tidak ada yang menyangka jika malam itu akan jadi pertemuan terakhir mereka.

Baca Juga: Lho, Gak Percaya? 5 Zodiak Dikerumuni Keberuntungan, di Antara yang Menyertai Rezeki dan Cuan Sebukit

Air mata Catherine mengalir bersama darah ayahnya yang menggenang di halaman rumah.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X