Regulasi Keamanan Pangan Diskriminatif, Bukan Prinsip Regulatory yang Baik

- Jumat, 16 September 2022 | 04:59 WIB
Ilustrasi Pangan (Google Images)
Ilustrasi Pangan (Google Images)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Regulasi keamanan pangan diskriminatif yang hanya diberlakukan pada satu produk tertentu saja bukan prinsip regulatory yang baik.

Hal itu dikatakan mantan Vice-Chair Codex Alimentarius Commission (CAC), Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, yang juga peneliti senior Seafast Center LPPM IPB

Menurutnya, hal itu bisa menyebabkan tujuan dari kebijakan yang mau dibuat itu tidak tercapai.

Baca Juga: Hasil Liga Europa: AS Roma Menang Telak 3-0 Atas HJK

Hal itu disampaikannya menanggapi wacana revisi kebijakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mau mewajibkan pelabelan “berpotensi mengandung BPA” hanya pada produk kemasan galon guna ulang saja.

Menurut Purwiyatno, penelitian yang dilakukan hanya kepada produknya saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa itu membahayakan bagi kesehatan.

“Kalau kita bicara mengenai risiko keamanan pangan maka landasannya adalah bukannya ada atau tidak ada bahaya dalam hal ini BPA dalam produknya, tetapi seberapa besar paparan atau exposure BPA tersebut terhadap masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Intai Asmara Zodiak Hari Ini 16 September 2022: Cinta dan Hari Sempurna Libra-Sagitarius, Koneksi Baru Scorpio

Dia mengutarakan bahwa kebijakan terkait pelabelan BPA ini termasuk regulatory science yang harus mempertimbangkan berbagai faktor.

Di antaranya faktor ekonomi, sosial, dan lain-lain, termasuk aspek politik juga bisa masuk di sana.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X