Erick Thohir: Kuota Pembelian Obat Terapi Covid-19 Dibatasi, Cegah Aksi Penimbunan

Red
- Senin, 26 Juli 2021 | 15:44 WIB
Obat-obatan sebagai komoditas inti. (foto ilustrasi: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)
Obat-obatan sebagai komoditas inti. (foto ilustrasi: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, pemerintah akan membatasi kuota pembelian obat terapi Covid-19 menyusul meningkatnya permintaan dalam beberapa minggu terakhir.

Hal ini untuk mencegah aksi penimbunan obat serta menghindari kelangkaan produk.

"Di lapangan kita harus perketat sehingga tidak ada penimbunan. Jadi saat beli, kita kuotakan," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir setelah rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo secara daring, Senin (26/7), seperti dikutip dari katadata.co.id.

Selain itu, penjualan obat tersebut akan dilakukan di apotek. "Itu yang sekarang kita coba jaga di apotek atau sesuai dengan kebutuhan rumah sakit atau Kementerian Kesehatan," katanya.

Baca Juga: Polsek Grobogan Bagikan Sayur Mayur dan Lauk Pauk dari Sedekah Tetolong

Kementerian BUMN juga telah melakukan proyeksi kebutuhan obat selama dua bulan ke depan.

Oleh karenanya, kementerian BUMN akan fokus pada apotek yang dikelola BUMN, pesanan dari Kementerian Kesehatan, keperluan holding rumah sakit BUMN, dan paket obat gratis dua juta untuk kegiatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM.

Adapun, produksi obat terapi Covid-19 dilakukan oleh BUMN dan perusahaan swasta. Sejumlah swasta yang memproduksi Oseltamivir seperti Amarox, PT Kalbe Farma Tbk, Roche, dan Sampharindo.

Baca Juga: Tinjau Isolasi Rumdin Walikota Semarang, Panglima Ingatkan Tugas Tracing Masif TNI-Polri

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Kata Data

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X