NU Sentil ‘Gagal’ Tangani Covid-19, Kiai Said: Pemerintah Tidak Kooperatif

- Senin, 26 Juli 2021 | 08:26 WIB
KH Said Aqil Siradj (Nugroho Wahyu Utomo)
KH Said Aqil Siradj (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com -  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan bermain sendiri dalam penanganan pandemi Covid-19.

Sehingga penanganan Covid-19 sejuah ini belum berhasil.

Menurut Kiai Said, di awal pandemi PBNU, Pemerintah tidak pernah mengajak PBNU dan tokoh masyarakat maupun agama dalam upaya menangani Covid-19.

Baca Juga: Perpanjangan PPKM, 3 Inmendagri Resmi Diterbitkan Tito Karnavian

Sikap tidak kooperatif Pemerintah ini menyebabkan penanganan pandemi belum maksimal hingga kini.

"Selama ini saya rasakan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini main sendiri. Jadi pada awal-awal setahun kemarin kami (NU) sama sekali kita tidak pernah diajak bersama-sama mengatasi pandemi ini," ujar Kiai Said pada acara Harlah Ke-23 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru-baru ini.

Kiai Said mengatakan sejak awal pandemi sikap pemerintah tidak kooperatif baik dengan tokoh-tokoh publik maupun agama.

Baca Juga: Stok Obat Terapi Covid-19 Kosong, Aparat Kepolisian Patut Menyelidiki

Kondisi ini, kata dia, mengakibatkan pemerintah hingga kini masih gagal dalam mengatasi wabah virus corona yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini.

"Bahwa benar selama ini pemerintah masih gagal dalam menghadapi pandemi Covid-19," tutur Kang Said itu.

Kendati demikian, selama masa pandemi, dia mengaku sudah berupaya untuk menyadarkan warga Nahdliyin termasuk kiai terkait fakta serta bahaya Covid-19.

Namun Kiai Said mengakui masih ada beberapa dari mereka yang sampai saat ini belum menyadari bahaya tersebut.

"Kepada para kiai, mari bersama-sama memberikan penyadaran soal Covid-19 dan pentingnya vaksinasi, karenanya jika tidak akan berdampak buruk dan berakibat parah bagi masyarakat," kata Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

"Modal yang paling utama, prinsip yang paling utama adalah sabar," kata Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur ini.

Kesabaran merupakan martabatul istiqamah (martabat keistiqamahan) yang akrab dengan kehidupan para Nabi, Auliya, dan Ulama dalam menghadapi beraneka macam musibah.

"Para nabi, wali, Ulama, kiai, dan pejuang, semua modalnya cuma sabar. Sabar bukan berarti kalah dan lemah. Sabar adalah kekuatan, keteguhan, ketegaran dan merupakan prinsip terus maju, itu baru sabar namanya," tegas alumni Universitas Umm Al-Quro, Makkah, Arab Saudi itu.

Sadarkan Kiai

Kiai Said mengajak semua pihak berkerja sama untuk menyadarkan para kiai yang hingga kini masih tidak percaya adanya Covid-19.

Bahkan berprasangka buruk bahwa vaksin itu merupakan pembantaian massal.

"Ini akibatnya akan sangat salah nanti, akibatnya sangat parah nanti," katanya.

Menurutnya jika sikap denial (penolakan) itu dibiarkan, akan membuat buruk citra NU di hadapan publik.

Sehingga muncul penilaian bahwa NU tidak rasional atau justru lebih umum lagi dengan menganggap Islam tidak rasional.

Terlebih bila anggapan tersebut keluar dari kiai-kiai di lingkungan NU.

"NU tidak realistis, NU berpikir sangat kuno dan tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Seperti itu nanti bahayanya," katanya.

Kiai Said menyatakan, selama masa pandemi pihaknya sudah berupaya tanpa henti untuk menyadarkan masyarakat khususnya Nahdliyin, termasuk kiai soal fakta adanya corona yang berakibat sangat berbahaya.

Namun hingga kini masih sebagian belum menyadari bahayanya.

"Itu masih ada beberapa kiai, ya bukan kiai kecil lagi, bukan kiai yang imam mushala, bukan. Mereka masih tidak percaya Covid-19 dan masih suudzan dengan kebijakan vaksinasi," katanya.

Selama pandemi ini PBNU tidak pernah berhenti mengingatkan soal bahaya Covid-19 serta mendorong agar vaksinasi segera dituntaskan.

"Virus itu ada, dan sangat bahaya. Maka, ayo kita sukseskan vaksinasi" kata dosen Luar Biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo, Kediri itu.

Kiai Said menduga bahwa mereka yang tidak percaya Covid-19 dan vaksinasi itu beralaskan membela iman.

Sehingga menganggap hal-hal di luar iman, seperti Covid-19 tidak masuk akal dan tidak perlu diyakini keberadaannya.

"Itu nanti bahayanya akan kembali kepada kita," katanya.

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Viral! Edy Mulyadi Hina Kalimantan, Begini Sosoknya 

Senin, 24 Januari 2022 | 14:34 WIB
X