Aturan Baru: Tes Antigen Bisa untuk Tracing, Semua Kontak Erat Wajib Karantina

- Senin, 26 Juli 2021 | 09:12 WIB
Tes antigen. (suaramerdeka.com / dok)
Tes antigen. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan baru semasa penerapan PPKM dalam upaya mempercepat dan pengetatan testing dan tracing untuk menemukan kasus positif sebanyak mungkin.

Selanjutnya mereka akan mendapat penanganan sehingga efektif menekan penularan. Dua aturan penting itu di antaranya Kemenkes mengizinkan pemerintah daerah menggunakan hasil pemeriksaan test Rapid Antigen (RDT-Ag) sebagai diagnosis.

Aturan lain, seluruh kontak erat dari kasus terkonfirmasi harus dikarantina sampai hasil tes menyatakan negatif agar gar tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu mengatakan Kementerian Kesehatan menginstruksikan kepada Kepala Dinas Kesehatan baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, agar meningkatkan testing dan tracing di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Baca Juga: Perpanjangan PPKM, 3 Inmendagri Resmi Diterbitkan Tito Karnavian

Kemenkes menerbitkan surat edaran untuk memasifkan testing dan tracing selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Maxi Rein Rondonuwu, menyebut daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4 diperbolehkan menggunakan hasil tes antigen sebagai diagnosis pelacakan kontak erat maupun sukses. 

"Juga bisa juga dipakai sebagai data dukung dalam pengajuan klaim Covid-19," kata Maxi dalam keterangan tertulis, pada Sabtu, 24 Juli 2021.

Baca Juga: Eko Yuli Raih Medali Perak Olimpiade, Menpora: Luar Biasa, Kita Bangga

Menurut Maxi penggunaan hasil tes antigen diutamakan bagi daerah yang alat diagnosisnya terbatas, sehingga, hasilnya bisa diketahui lebih cepat dan tes dapat dilakukan secara masif guna mempercepat tracing.

Sementara itu, seseorang yang teridentifikasi sebagai kontak erat baik yang bergejala maupun tidak bergejala wajib mengikuti pemeriksaan entry dan exit test.

Bila hasil tes antigen di hari pertama hasilnya negatif, dilanjutkan dengan tes PCR pada hari kelima untuk exit test.

"Bagi daerah yang tidak ada fasilitas lab PCR, pelaksanaan exit test bisa menggunakan antigen," ujar Maxi.

Baca Juga: Sekolah Swasta Masih Bisa Terima Peserta Didik Baru, Tak Diatur Khusus di PPDB

Selain upaya mempercepat testing dan testing untuk menemukan sebanyak mungkin pasien positif Covid-19 dan selanjutnya dilakukan penanganan, Maxi menambahkan Kemenkes bakal memperketat penanganan kontak erat.

Seluruh kontak erat dari kasus terkonfirmasi harus dikarantina sampai hasil tes menyatakan negatif agar gar tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.

Seluruh orang yang tinggal serumah dan bekerja di ruangan yang sama dianggap kontak erat, sehingga, mereka wajib mengikuti pemeriksaan entry test dan dikarantina.

Pelacakan kontak erat juga menyasar orang-orang yang satu perjalanan, satu kegiatan keagamaan/sosial, dan riwayat makan bersama.

Pasien yang terlacak dengan gejala ringan dan tidak bergejala langsung diisolasi ke tempat isolasi terpusat.

"Sementara pasien gejala sedang dan berat akan dibawa ke fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," kata Maxi.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X