Penularan Covid-19 RI Masih Tinggi, Waspada Positivity Rate 30 Persen

- Sabtu, 24 Juli 2021 | 10:00 WIB
 Jubir Pemerintah untuk Covid-19, Wiku Adisasmito. (suaramerdeka.com / dok) (Murdiyat Moko)
Jubir Pemerintah untuk Covid-19, Wiku Adisasmito. (suaramerdeka.com / dok) (Murdiyat Moko)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan hingga minggu ketiga Juli positivity rate Indonesia mencapai 28,27 persen atau rata-rata pekan lalu masih sekitar 30 persen, masih jauh dari standar WHO di atas 5 persen.

Melihat angka dalam beberapa hari ini, rasio kasus positif Covid-19 dibandingkan jumlah orang yang diperiksa (positivity rate) rata-rata masih tinggi.

Pekan lalu, selama periode tujuh hari, rata-rata positivity rate Indonesia tercatat 30,07 persen di mana angka harian positivity rate naik turun.

Mengutip data Kementerian Kesehatan, positivity rate Covid-19 pada Selasa (20/7) mencapai 33,42 persen atua naik dibandingkan positivity rate pada Senin (19/7) sebesar 26,88 persen.

Baca Juga: Kematian Covid-19 Jateng Tertinggi, Luhut Minta Laporan Khusus

Pada Rabu (21/7) tercatat 29,06 persen atau turun dari angka sebelumnya, namun angka itu jauh di atas standar WHO yang menetapkan standar positivity rate Covid-19 di atas 5 persen.

Angka positivity rate RI menunjukkan tingkat penularan Covid-19 di Tanah Air sangat tinggi. Idealnya, jumlah orang yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 jauh di bawah jumlah orang yang diperiksa.

Dengan demikian menghasilkan positivity rate yang rendah sesuai standar maksimal yang ditetapkan WHO, yakni 5 persen.

Baca Juga: Harga Emas Berakhir Lebih Rendah Usai Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS

Dalam kondisi angka penularan masih tinggi, Satgas menekankan baik metode PCR maupun rapid test antigen terus dioptimalkan.

Saat ini perkembangan angka testing pun dalam setiap harinya menunjukkan angka yang dinamis. "Jika dilihat secara harian, akan sangat dinamis naik turunnya," kata Wiku.

Wiku menyebut per pekan ketiga Juli 2021, testing Indonesia sudah 4 kali melampaui standar WHO.

Namun ke depan, target nasional terkait testing mengedepankan prinsip prioritas yaitu mendahulukan suspek dan kontak erat dari kasus terkonfirmasi.

Baca Juga: PPKM Perlu Dievaluasi Menyeluruh, Anggota DPR: Bukan Hanya Gonta-ganti Istilah

Prinsip prioritas ini untuk menurunkan angka positivity rate nasional. Dimana dalam melihat perkembangan data testing harian belum dapat menunjukkan gambaran secara menyeluruh kondisi testing secara nasional.

Untuk itu Pemerintah gencar melakukan 3T (testing , tracing dan treatment) selama masa PPKM Level 4 Covid-19.

Satgas meminta kerja sama setiap daerah untuk mencapai rasio target testing yang spesifik di tiap daerah berdasarkan angka positivity rate masing-masing kabupaten kota.

"Sekaligus pemberdayaan posko di tingkat komunitas untuk mencapai target tracing sebanyak 15 kontak per kasus konfirmasi," kata Wiku.

Wiku mengakui tantangan testing erat hubungannya dengan penambahan kasus konstan. Di mana rata-rata penambahan kasus harian di atas 10 ribu kasus dalam 1 bulan terakhir yang diperparah dengan kemunculan varian delta yang telah mencapai 661 kasus di Pulau Jawa-Bali saat ini.

Karakteristik varian delta mudah menular dan memberikan tekanan cukup besar pada fasilitas penyedia layanan kesehatan, laboratorium dan unsur lain yang menimbulkan keterlambatan pencatatan.

Untuk itu sebelum pembukaan PPKM Darurat bertahap, harus dipastikan upaya gotong royong dalam meningkatkan testing dan menurunkan angka kematian.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PMI DIY Salurkan Bantuan bagi Korban Erupsi Semeru

Selasa, 7 Desember 2021 | 23:28 WIB

Kemenag Raih Anugerah Meritokrasi KASN 2021

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:40 WIB

Safar: Program JKN KIS, Jaminan Kesehatan yang Mumpuni

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:07 WIB
X