PPKM Perlu Dievaluasi Menyeluruh, Anggota DPR: Bukan Hanya Gonta-ganti Istilah

- Sabtu, 24 Juli 2021 | 08:36 WIB
Ilustrasi PPKM (suaramerdeka.com / dok) (Nugroho Wahyu Utomo)
Ilustrasi PPKM (suaramerdeka.com / dok) (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah memutuskan memperpanjang  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali hingga 25 Juli guna menekan lonjakan kasus Covid-19.

Dalam pelaksanaanya hingga 25 Juli mendatang, PPKM harus dievaluasi secara menyeluruh, dan bukan hanya gonta-ganti istilah.

“Harus ada evaluasi komprehensif terhadap pelaksanaan PPKM untuk mengukur efektivitasnya, bukan hanya gonta-ganti istilah,” kata Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher melalui rilisnya.

Data testing yang dilakukan pemerintah memang turun drastis hingga 68 persen dalam beberapa hari.  Sementara angka positivity rate kita meningkat  hingga 30 persen dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Vaksinasi Pelajar Akan Menyasar Daerah-daerah Zona Merah Jawa Tengah

“Klaim bahwa kasus mengalami penurunan, tidak bermakna apa-apa jika testing kita rendah,” kata Netty.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebut, pemerintah harus memiliki  indikator kuantitatif  dalam mengukur keberhasilan PPKM.

“Misalnya, berapa rerata tingkat BOR (bed occupancy rate) yang bisa ditolerir, berapa banyak pasien isoman yang terpantau, bagaimana dengan ketersediaan obat, SDM nakes, oksigen, APD dan alkes lainnya," ungkap Netty.

Data kuantitatif tersebut penting diperhatikan, lanjut Netty, mengingat lonjakan kasus dan perluasan pandemi juga diukur secara angka.

Baca Juga: Upacara Pembukaan Olimpiade 2020, Kontingen Indonesia Diwakili 10 Personel

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pak Penghulu pun Kenakan APD

Rabu, 22 September 2021 | 01:35 WIB

PTM Tanpa Izin, 90 Siswa Terpapar Virus Korona

Rabu, 22 September 2021 | 01:29 WIB

Rehab Rumah Tak Layak Huni, BRI Gombong Bantu Rp 50 Juta

Selasa, 21 September 2021 | 21:46 WIB

RK: Siap-siap Hidup dengan Covid-19 Sebagai Endemi

Selasa, 21 September 2021 | 17:32 WIB
X