Keluarga Santri yang Tewas di Gontor tak Percaya dengan Surat Kematian dari Dokter RS Karena Temukan Luka

- Rabu, 7 September 2022 | 10:47 WIB
Ilustrasi penganiayaan (Pixabay/annabel_p-9567525/)
Ilustrasi penganiayaan (Pixabay/annabel_p-9567525/)

PONOROGO, suaramerdeka.com - Keluarga AM, santri Gontor yang meninggal dunia karena dugaan penganiayaan awalnya curiga karena mendapatkan surat kematian tidak sesuai realita.

Pada 23 Agustus 2022, keluarga menerima surat kematian dari RS Yasfin Darusalam Gontor yang diberikan oleh perwakilan pondok saat penyerahan jenazah.

Dalam surat itu, dokter yang bernama Mukhlas Hamidy menuliskan bahwa korban meninggal dunia akibat sakit.

Mukhlas menuliskan bahka AM meninggal akibat penyakit tidak menular.

Ibu korban yang menaruh curiga, lantas memaksa untuk membuka peti jenazah.

Baca Juga: Kapan Anak Kambing Mulai Boleh Makan Hijauan? Begini Penjelasan Praktisi

Pada saat itulah, ditemukan bahwa kondisi korban tidak seperti halnya orang sakit pada umumnya.

Melainkan ditemukan beberapa luka lebam dari atas hingga bawah.

Bahkan pada bagian dada AM mengeluarkan darah.

"Gontor mengakui AM meninggal karena dianiaya, bukan sakit seperti yang tertulis dalam surat," kata Titit, kuasa hukum keluarga korban di Palembang, Selasa 6 September 2022.

Halaman:

Editor: Wahyu Asyari Muntoha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengacara Kamaruddin Minta Oknum Jaksa Diperiksa

Jumat, 25 November 2022 | 16:48 WIB

RUU KUHP Segera Disahkan, Ini Komentar Ahli Hukum

Jumat, 25 November 2022 | 14:12 WIB
X