Tak Perlu Persoalkan Soal Istilah, PPKM Mampu Tekan BOR RS

- Rabu, 21 Juli 2021 | 19:58 WIB
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kami. SM/Dok
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kami. SM/Dok

BANDUNG, suaramerdeka.com - Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menyebut bahwa masyarakat kemungkinan kurang nyaman dengan banyaknya istilah dalam penanganan Covid-19 termasuk yang terbaru yakni perubahan ke PPKM level 1-4 dari semula PPKM darurat yang sudah bergulir sejak awal Juli lalu.

Hanya saja dia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak dalam upaya menekan tingkat keterisian rumah sakit (bed occupancy ratio) di wilayahnya akibat lonjakan kasus corona. Sebelumnya, BOR di Jabar sempat mencapai 90,91 persen.

"Masyarakat mungkin juga capek ganti-ganti istilah tapi ini realita yang harus dilakukan. Apakah PPKM darurat berhasil? Dilihat dari statistik lumayan, karena hari ini BOR di kami turun 13 persen," katanya saat memberikan keterangan secara virtual, Rabu (21/7) petang.

Baca Juga: Mahasiswa IAIN Batusanagkar Menangkan Seleksi Kursus Internasional Bidang Biologi

Emil berharap tren menurun itu bisa terus berlanjut mengingat proses penanganan masih bergulir hingga pekan mendatang (25/7). Kondisi tersebut juga bisa mengimbangi kabar-kabar menegangkan. Masyarakat pun bisa sedikit menarik lapas lega.

"Di awal puncak, kenaikan BOR-nya cukup tinggi, namun makin ke sini semakin menurun, dengan kondisi tersebut, semoga pesan innalillahi di pesan-pesan WA kita juga bisa turun," kata mantan Walikota Bandung tersebut.

Dalam kesempatan itu, Emil dengan mengutip data yang dimilikinya juga menyebut bahwa ada korelasi vaksinasi dengan kasus kematian akibat penyakit tersebut. Vaksinasi yang rendah seiring dengan tingkat kematian yang tinggi.

"Dua kota yakni Kota Bandung dan Kota Cirebon, tingkat prosentase vaksinasinya tinggi dan tingkat kematiannya rendah," kata pria berlatar arsitek.

Baca Juga: Jubir Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi Sebut Jawa-Bali Masih di Level 4 Pandemi

Dalam kasus meninggal itu, Emil menyebut bahwa kasus komorbid yang menyertai pasien tak bisa dilepaskan. Setidaknya ada tiga penyakit bawaan yang berkontribusi dalam kejadian tersebut.

"Kasus komorbid yang membuat kematian tinggi di Jabar yakni darah tinggi (hipertensi), diabetes dan jantung. Ini akan menjadi perhatian kita bahwa tiga besar penyakit itu mayoritas menjangkiti kematian warga di Jabar," jelasnya.

Hanya saja, untuk menggenjot vaksinasi, pihaknya terkendala dengan kiriman stok vaksin Covid-19 dari pemerintah pusat. Sejauh ini, Jabar mendapat jatah 9 juta vaksin dengan rasio penyuntikan yang sudah selesai mencapai 74 persen.

"Kami minta vaksin, tapi masih kosong, drop dari pusat gak ada, karena baru datag Agustus, sehingga kami menggunakan sisa vaksin yang 26 persen itu, bukan untuk dosis kedua tapi untuk memperluas wilayah-wilayah vaksinasi seperti di sekolah-sekolah dan vaksin keliling," katanya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Tertinggi Kesembuhan Pasien Covid-19 di Jateng

Senin, 20 September 2021 | 01:10 WIB

Kreativitas lewat Film tentang Rara Mendut

Senin, 20 September 2021 | 01:00 WIB

Peradi Pemalang Luncurkan Pusat Bantuan Hukum Gratis

Minggu, 19 September 2021 | 18:02 WIB

Immune Booster Disalurkan ke Korban Banjir Lebak

Minggu, 19 September 2021 | 11:16 WIB

Membiasakan Hidup Bersama Covid-19

Minggu, 19 September 2021 | 00:34 WIB

Pandemi dan Keseimbangan Hidup

Minggu, 19 September 2021 | 00:21 WIB
X