Alat Bantu Napas dari Aerator Akuarium Jadi Solusi Krisis Oksigen

- Selasa, 13 Juli 2021 | 15:22 WIB
ALAT BANTU NAPAS: Direktur RSI Banjarnegara dr Agus Ujianto SpB menunjukkan alat bantu napas Portable Oxygen Concentrator Banjarnegara Islamic Hospital (POCBIH) yang dirakit karyawannya untuk mengatasi krisis oksigen. (suaramerdeka.com/Castro Suwito)
ALAT BANTU NAPAS: Direktur RSI Banjarnegara dr Agus Ujianto SpB menunjukkan alat bantu napas Portable Oxygen Concentrator Banjarnegara Islamic Hospital (POCBIH) yang dirakit karyawannya untuk mengatasi krisis oksigen. (suaramerdeka.com/Castro Suwito)

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, sebagian besar rumah sakit di Tanah Air mengalami krisis oksigen seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19.

Tak terkecuali Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara. Berbagai cara diupayakan untuk memenuhi kebutuhan oksigen.

Sebelumnya, RSI Islam Banjarnegara bahkan sempat memanfaatkan stok oksigen yang dimiliki oleh pedagang benih ikan di Desa Lengkong, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara. Namun, upaya tersebut belum mampu menjamin ketersediaan oksigen.

Baca Juga: Rabu, Vaksin Covid-19 di Pati Habis, Bupati Minta Pengiriman Dipercepat

Menyikapi situasi sulit ini, dua orang staf Litbang Pemeliharaan Alat dan Gas Medik RSI Banjarnegara berusaha menciptakan alat sederhana yang bisa digunakan untuk membantu pernapasan pasien dengan gejala sesak napas ringan.

Evan Wisik Prabowo dan Nokta Arvianto merakit alat bantu pernapasan menggunakan dua unit aerator akuarium, selang berukuran 0,25 milimeter, serta flowmeter untuk mengukur aliran udara yang dihasilkan. Alat tersebut selanjutnya dinamakan Portable Oxygen Concentrator Banjarnegara Islamic Hospital (POCBIH).

“Alat ini sebagai penghasil oksigen murni yang berguna untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan bernapas. Alat sederhana ini bersifat membantu masuknya oksigen sebagaimana bernapas normal. Kalau dilihat ukurannya sekitar 21 persen," kata Evan.

Baca Juga: Obat Gratis untuk Pasien Covid-19 Segera Dibagikan, Ganjar: Ayo yang Isolasi Mandiri Segera Lapor!

Secara teknis, udara bebas divakum ke dalam dua aerator kemudian disalurkan melalui selang ke flowmeter yang terisi air steril. Selanjutnya, udara yang mengandung oksigen disalurkan melalui selang ke hidung pasien.

“Alat ini sudah sangat membantu bagi pasien Covid-19 di tengah sulitnya mendapatkan pasokan oksigen,” ujarnya.

Direktur RSI dr Agus Ujianto SpB mengatakan, alat temuan bagian Litbang RSI ini sangat membantu pasien Covid-19 bergejala ringan, serta pasien asma yang membutuhkan bantuan oksigen dalam waktu lama.

“Alat ini mudah dioperasikan, selama ada listrik dan air steril yang bisa diisi ulang berkali kali. Bisa juga ditambah minyak atsiri untuk terapi relaksasi," katanya.

Baca Juga: Masyarakat Diimbau untuk Tetap Beribadah di Rumah

Alat tersebut bisa menghasilkan oksigen dengan tekanan 5-6 liter per menit. Tekanan tersebut dapat membantu pasien sesak mapas dengan gejala ringan.

Sedangkan pasien dengan gejalan akut, menggunakan terapi oksigen tekanan tinggi dari oksigen tabung. Dengan demikian, kebutuhan oksigen tabung bisa diprioritaskan secara efektif bagi pasien yang benar-benar membutuhkan.

Agus menegaskan, semua usaha manusia termasuk vaksin, mengupayakan berbagai obat dan pembuatan alat ini merupakan cara untuk mempertahankan diri di masa pandemi. Rumah sakit sebagai ujung tombak terdepan akan terus berupaya untuk mengatasi berbagai keterbatasan.

Keunggulan alat ini, lanjutnya, yakni portabel dan lebih murah dibandingkan alat serupa produksi pabrikan. Dibandingkan dengan oksigen tabung harganya mencapai Rp 1 juta lebih, sedangkan oksigen purifier impor harga di pasaran berkisar Rp 50 juta.

“Alat ini lebih murah, dan misalnya diproduksi dengan profil yang lebih bagus, harganya tidak lebih dari Rp 1 juta,” tandasnya.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X