Malam Lebih Terasa Dingin di Pulau Jawa, Ini Penjelasan BMKG

- Sabtu, 10 Juli 2021 | 17:18 WIB
Ilustrasi BMKG (instagram @infobmkg)
Ilustrasi BMKG (instagram @infobmkg)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Belakangan suhu dingin dirasakan di Pulau Jawa, terutama di Jawa Timur, saat musim kemarau khususnya pada malam hari.

Banyak berita yang beredar, mengkaitkan hal tersebut dengan "fenomena aphelion", sehingga menimbulkan pertanyaan di masyarakat.

BMKG dalam penjelasannya menyebut, fenomena suhu udara dingin merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli - September).

Baca Juga: Ingin Meningkatkan Imunitas Tubuh? Konsumsi Lima Rempah-rempah Ini

Saat ini wilayah Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau, pada periode ini ditandai oleh pergerakan angin bertiup dominan dari arah Timur yang berasal dari Benua Australia.

"Pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering," demikian penjelasan BMKG melalui instagram @infobmkg.

Disebutkan, adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia).

Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin.

Baca Juga: Yoyok Sukawi Setuju Gedung DPR/MPR Digunakan sebagai RSD Covid-19

Sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X