Sudah Dituntut Lima Tahun Penjara, Edhy Prabowo Masih Keberatan, Ini Alasannya

- Sabtu, 10 Juli 2021 | 11:09 WIB
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo/Foto dokumentasi (Nugroho Wahyu Utomo)
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo/Foto dokumentasi (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Meski sudah dituntut lima tahun penjara, namun Edhy Prabowo masih merasa keberatan.

Alasannya, Edhy Prabowo menyebut dirinya seorang ayah yang memiliki istri shalihah, serta tiga orang anak.

Alasan lainnya, Edhy Prabowo usianya telah 49 tahun, sehingga tidak kuat menanggung beban berat.

Baca Juga: Pasal Multitafsir dalam UU ITE, SKB Pedoman Belum Cukup Menjelaskan

Edhy Prabowo bahkan menyampaikan permintaan maafnya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

"Secara khusus saya sampaikan permohonan maaf pada Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Bapak Prabowo Subianto, yang selama ini telah memberikan amanah atau kepercayaan kepada saya," kata Edhy Prabowo, seperti yang dikutip dari pikiran-rakyat.com, sabtu, 10 Juli 2021.

Diketahui sebelumnya, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo dituntut 5 tahun penjara terkait kasus suap yang menjeratnya.

Baca Juga: Jaksa Agung Minta PPKM Darurat Kedepankan Hati Nurani

Selain itu dia juga didenda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan, membayar uang pengganti Rp 10,8 miliar dan hak politik dicabut selama empat tahun.

Edhy Prabowo juga didakwa bersama Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhu Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi), Ainul Faqih (sekretaris pribadi istri Edhy, Iis Rosita Dewi) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo).

Mereka didakwa menerima USD 77 ribu dan Rp 24,625 miliar jika ditotalkan sebesar Rp 25,75 miliar.

Uang tersebut berasal dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) yang terkait dengan pemberian izin budidaya dan ekspor.

Menanggapi hukuman lima tahun penjara bagi Edhy Prabowo, mantan Menteri KLH, Emil Salim membandingkan kasus yang menyeret Edhy Prabowo dengan kepala desa di Rokan Hilir, Riau.

Kepala desa di Rokan Hilir diduga melakukan korupsi dana sebesar Rp 399 juta sementara Edhy Prabowo terbukti menerima suap sebesar 77.000 dolar Amerika dan Rp 24,625 miliar sehingga totalnya mencapai sekitar Rp 25,75 miliar.

Emil Salim justru mempertanyakan keadilan atas tuntutan itu.

Halaman:
1
2

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berhasil Kabur, Bandar Narkoba Tabrak Anggota Polisi

Senin, 22 November 2021 | 11:58 WIB
X