3.000 Tabung Oksigen Aman, Menkes Sebut Perlu Perbaikan Logistik Oksigen Medis

- Selasa, 6 Juli 2021 | 16:13 WIB
TABUNG OKSIGEN: Karyawan RS Islam Banjarnegara menunjukkan tabung oksigen yang kosong di depan ruang isolasi pasien Covid-19.(suaramerdeka.com/Castro Suwito)
TABUNG OKSIGEN: Karyawan RS Islam Banjarnegara menunjukkan tabung oksigen yang kosong di depan ruang isolasi pasien Covid-19.(suaramerdeka.com/Castro Suwito)

JAKARTA, suaramerdeka.com – Melonjaknya kasus Covid-19 berimplikasi pada permintaan terhadap tabung gas oksigen medis. Di berbagai tempat di wilayah Jakarta dan sekitarnya terjadi antrian warga untuk mengisi tabung gas oksigen bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri.

Meningkatnya permintaan tabung gas medis dibenarkan oleh para pedagang. Mereka mengakui, permintaan tabung gas oksigen terus mengalir deras dalam beberapa hari terakhir. Mereka juga membeberkan, mendapat permintaan pengadaan tabung untuk isolasi mandiri pasien Covid-19.

Rata-rata mereka memesan lewat telepon maupun aplikasi WhatsApp tanpa harus datang ke lokasi. Namun pedagang mengaku cukup takut mengirimnya langsung ke lokasi, meski sebagian pengiriman lewat aplikasi ojek online.

Baca Juga: PPKM Darurat di Rumah Saja, Makanan Olahan dan Susu Bakal Diburu

"Sekarang banyak yang cari tabung agak gede. Ada yang karena Covid di rumah, jadi stok 6-10 tabung untuk 1 keluarga, isi oksigen sampai Rp900.000," kata Usman, seorang pedagang di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Berkaitan dengan kelangkaan tabung oksigen tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, Indonesia masih memiliki stok tabung oksigen yang cukup di tengah lonjakan kasus Covid-19.

“Saat ini masih ada stok 3.000 tabung oksigen dan para produsen tabung perusahaan dalam negeri. Mereka bisa cepat memproduksi tabung oksigen. Dengan begitu bisa diantisipasi potensi kekurangan tabung," ujarnya di situs resmi pemerintah Indonesia.go.id.

Baca Juga: BOR ICU Capai 97 Persen, RS Pratama Yogya Diproyeksi Jadi RS Covid-19

Dia mengungkapkan, saat ini pemerintah juga sudah memegang komitmen dari penyuplai oksigen dalam negeri untuk mengalihkan kapasitas produksinya dari untuk industri menjadi untuk kebutuhan medis. Dengan begitu akan ada stok oksigen yang mencukupi di tengah lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi.

Menurut Menkes Budi Gunadi, persoalan bukan ada pada langkanya tabung oksigen. Melainkan, yang perlu diperbaiki adalah persediaan oksigen medis atau aspek logistik.

Pemerintah pun akan memastikan kelancaran logistik dari truk-truk pengangkut oksigen sehingga tidak terkena hambatan penyekatan atau kelebihan muatan.

"Kami berdiskusi dengan produsen oksigen ini, kami bisa mengisi dengan truk-truk yang berasal dari Jabar dan Jatim. Kami sudah berkoordinasi dengan Polri agar logistik truk besar ini aman. Jadi tidak ada gangguan ataupun ODOL jadi logistik bisa lancar," ujarnya.

Baca Juga: Menko Luhut: Masuk Indonesia, WNA harus Kantongi Kartu Vaksin

Dalam rangka mengamankan pasokan oksigen medis, sebelumnya Kementerian Perindustrian bersama Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) dan para pelaku industri terkait berupaya menjaga ketersediaan pasokan oksigen medis untuk kebutuhan sejumlah rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 di seluruh wilayah Indonesia.

"Kemenperin sudah membahas dengan asosiasi terkait kekurangan kekurangan oksigen di beberapa rumah sakit di Jawa Tengah. Mereka akan menyuplai dari pabrik-pabrik di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kami akan terus memastikan kebutuhan oksigen di rumah sakit terpenuhi dan sudah disanggupi oleh asosiasi," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Adapun kapasitas produksi gas oksigen di Indonesia 650 juta ton per tahun, sebanyak 300 juta ton per tahun terintegrasi dengan pengguna. Saat ini utilisasi rata-rata industri gas oksigen sekitar 80% karena sangat tergantung lokasi. Untuk tahun ini, hingga Juni 2021 tercatat sudah ada tujuh juta liter oksigen yang dipesan. Informasi terkait ketersediaan tabung gas oksigen medis untuk pasien Covid-19 dapat dilihat di situs resmi pemerintah Indonesia.go.id.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X