Kemenkes Didesak Atur Ulang Harga Tes Rapid Antigen, Ketua YLKI: Terlalu Mahal

- Minggu, 27 Juni 2021 | 17:55 WIB
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. (suaramerdeka.com / dok)
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatur ulang Harga Eceran Tertinggi (HET) tes rapid antigen di pasaran dalam negeri.

Saat ini, HET yang ditetapkan Kemenkes, yakni Rp 250 ribu. Padahal, kata dia, harga pokok tes rapid antigen jauh di bawahnya, yakni Rp 50 ribu.

"HET tes rapid antigen Rp 250.000 ternyata terlalu mahal. Sebab, menurut informasi yang saya peroleh, harga pokoknya hanya Rp 50.000," katanya, Minggu (27/6).

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19, Wali Kota Hendi Mulai Sasar Masyarakat 50 Tahun ke Bawah

Selisih harga itu, kata dia, terlampau jauh. Di masa sulit seperti saat ini, selisih HET dengan harga pokoknya yang terlampau jauh.

Seperti menunjukan ada pihak yang mengeruk keuntungan di balik kesulitan masyarakat. Akibatnya, masyarakat enggan untuk rapid tes secara mandiri.

"Jangan terlalu banyak mengambil untung. Jangan terlalu komersialistik di tengah pandemi seperti ini, tidak etis," ujarnya.

Baca Juga: Update 27 Juni: Rekor Lagi, Kasus Baru Covid-19 di Indonesia Bertambah 21.342 Orang

Dia mendesak Kemenkes untuk merevisi kebijakannya itu, sehingga harga pasarannya menjadi lebih masuk akal dengan harga yang lebih terjangkau.

"Saya minta Kemenkes mengevaluasi dan merevisi HET tes rapid antigen. Sehingga harganya lebih rasional dan terjangkau oleh konsumen. Apakah banyak cukong yang bermain sehingga HET rapid antigen sangat tinggi dan sangat mahal," katanya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

LRT Kecelakaan di Cibubur, Diduga Human Error

Senin, 25 Oktober 2021 | 20:52 WIB
X