Empat Macam Krisis Mengakibatkan Kepemimpinan Global Jadi Tidak Efektif Bekerja

- Kamis, 24 Juni 2021 | 11:15 WIB
Acara Gelora Talks di Jakarta. (suaramerdeka.com/Saktia Andri Susilo) (Saktia Andri Susilo)
Acara Gelora Talks di Jakarta. (suaramerdeka.com/Saktia Andri Susilo) (Saktia Andri Susilo)

Bukan Cerminan

Adapun peneliti komunikasi dan politik Guntur F. Prisanto berpendapat, pembelahan sosial politik di media sosial (medsos) bukanlah cerminan realita sesungguhnya.

Karena hal itu hanya sekedar gambaran di dunia maya saja.

"Sebab, pembelahan sosial adalah keniscayaan dalam politik. Dimana karena  penganut demokrasi liberal perlu mengindentifikasi secara tegas pilihannya," tuturnya.

Menurutnya, justru partai politiklah yang bertanggungjawab untuk mencairkan politik identitas ini.

Sedangkan Dyah Kartika Rini yang juga penggerak JASMEV menilai, bisa saja masyarakat tertentu hanya ingin menunjukkan pilihan dukungan dan politik di medsos. Akan tetapi tidak dunia nyata.

"Boleh jadi, dia amat garang di medsos tetapi sangat berbeda di dunia nyata. Pembelahan sosial sebenarnya sudah dimulai dari Pilkada DKI 2012 lalu. Jadi kalau dihitung, sudah berlangsung sembilan tahun," tukasnya.

Sedangkan penggerak Relawan Ganti Presiden Ari Saptono menegaskan, pada titik tertentu politik identitas justru menguntungkan para calon kadindat independen.

Antara lain seperti yang terjadi dalam Pilkada Serentak 2020 lalu.

"Hal itu karena mereka dianggap masih bersih dan tidak terlibat konflik kepentingan selama ini. Lebih dari 50 persen calon independen menang dalam Pilkada," tuturnya.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X