Impor Limbah Plastik Bikin Telur Ayam Kampung Terkontaminasi Bahan Kimia Beracun

Red
- Rabu, 23 Juni 2021 | 19:38 WIB
Telur/Ilustrasi Pixabay/Monicore
Telur/Ilustrasi Pixabay/Monicore

Telur ayam kampung juga dikumpulkan dari tempat pembuangan sampah plastik dan elektronik: tempat pembuangan sampah dengan jumlah sampah plastik yang signifikan: pabrik daur ulang dan fasilitas pemusnahan sampah yang menangani sejumlah besar sampah plastik, fasilitas pembakaran sampah serta pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy).

Telur-telur ini kemudian dianalisis untuk diukur ada atau tidaknya kontaminasi dioksin. Dioksin adalah produk sampingan yang sangat beracun dari hasil pembakaran terbuka, daur ulang sampah, produksi bahan kimia, dan teknologi insinerasi.

Selain itu, telur dianalisis untuk bahan kimia beracun lainnya yang dikenal sebagai "bahan kimia organik persisten" (POPs) yang telah dilarang atau sedang dalam proses dilarang secara global melalui Konvensi Stockholm.

Bahkan sejumlah kecil aditif kimia plastik dan emisi produk sampingan ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan, reproduksi, kanker, gangguan fungsi otak, dan/atau keterlambatan perkembangan.

“Laporan ini menegaskan bahwa kerugian yang disebabkan oleh ekspor limbah plastik tidak terbatas pada sampah dan polusi yang terlihat, tetapi beresiko membahayakan kesehatan manusia yang disebabkan oleh kontaminasi rantai makanan di negara-negara pengimpor. Aditif kimia beracun dan zat paling berbahaya di dunia benar-benar mengalir ke rantai makanan di negara-negara yang tidak mampu mencegahnya,” ujar Lee Bell, Penasihat Kebijakan POPs IPEN.

Baca Juga: Wisata Berbasis Vaksin: Baru Akan Disiapkan di Bali, AS hingga Rusia Ternyata sudah Lebih Dulu, Cek!

Lebih lanjut, laporan tersebut juga menemukan bahwa tingkat dioksin dan PCBs dalam telur di beberapa lokasi sangat tinggi sehingga penduduk tidak dapat memakan satu telur pun tanpa melebihi batas aman untuk bahan kimia ini sebagaimana yang ditetapkan di Uni Eropa.

Beberapa hal lain yang juga ditemukan dalam laporan ini yakni:

- Telur yang dianalisis mengandung beberapa bahan kimia paling beracun yang sudah sangat familiar, banyak di antaranya dilarang atau diatur oleh hukum internasional, termasuk dioksin, dan bahan tambahan kimia PBDEs, PCBs, dan SCCPs.'

- Di hampir setiap tempat sampah plastik terbuka di mana telur diambil sampelnya, kadar dioksin melebihi batas konsumsi aman Uni Eropa (UE) yakni sebesar 2,5 pg WHO TEA per gram.? Di beberapa lokasi, telur melebihi batas aman hingga sepuluh kali lipat. Untuk dioksin yang dikombinasikan dengan PCBs yang sama beracunnya dengan dioksin yang lain (sehingga diukur sebagai kombinasi) semua situs melebihi batas UE sebesar 5 pg WHO TEA per gram? dengan beberapa situs hingga enam kali lipat lebih tinggi.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Target 8 Kursi, PKB Kota Semarang Gelar Evaluasi

Minggu, 26 September 2021 | 19:45 WIB

CSIS: Komunikasi Politik Airlangga Hartarto Kuat

Minggu, 26 September 2021 | 17:40 WIB
X