Giliran Suplemen Terapi Penyembuhan Covid-19 Jalani Uji Klinis

- Rabu, 23 Juni 2021 | 18:43 WIB
Tempat tidur untuk pasien Covid-19 disiapkan di Balai Diklat kota Semarang, Ketileng, belum lama ini.
Tempat tidur untuk pasien Covid-19 disiapkan di Balai Diklat kota Semarang, Ketileng, belum lama ini.

BANDUNG, suaramerdeka.com - Ikhtiar penanganan terhadap pasien yang terpapar Covid-19 terutama untuk segera pulih dari sakitnya terus berkembang. Proses itu di antaranya dilakukan suplemen kesehatan asal Armenia yang tengah menjalani uji klinis di tiga lokasi di Jakarta dan Bandung.

Ketiga tempat itu adalah Wisma Atlet dan RS Hasan Sadikin dengan fokus membantu pemulihan dalam pengobatan. Satu lagi di RS Persahabatan untuk menguji khasiat pencegahan atas serangan virus tersebut.

"Ini merupakan terobosan baru senyawa herbal yang dikembangkan secara saintifik. Karenanya dilanjutkan ke uji klinis, dan kita submit ke BPOM dan persetujuan dari Litbangkes," kata peneliti herbal asal Unpad, Keri Lestari di sela-sela penyerahan donasi 25 ribu botol produk tersebut, Rhea Health Tone (RHT) senilai Rp 6,8 miliar untuk Penanganan Covid-19 di Jabar, Rabu (23/6).

Baca Juga: Delapan Staf Setwan DPRD Demak Terpapar Covid-19

Hadir dalam kegiatan secara daring itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan dua eks menteri era Kabinet Kerja yang terlibat dalam program tersebut yakni Rudiantara (Menkominfo) dan Eko Putro Sandjojo (Mendes PDTT)

Menurut Keri, sebelumnya, produk tersebut sudah menjalani preklinis di Singapura dan Amerika Serikat. Hanya saja di negara asalnya, merujuk otoritas kesehatan setempat, itu sudah direkomendasikan dalam bagian pengendalian Covid-19 karena dianggap membantu percepatan dalam proses pemulihan.

Pihaknya sendiri sudah menyelesaikan proses uji klinis di Wisma Atlet. Hasilnya, disebutnya, cukup menggembirakan. Kelompok yang mendapatkan suplemen tersebut menunjukan performa yang lebih baik dalam pemulihan.

Baca Juga: Gandeng Industri untuk Kembangkan Kompetensi Unggul Siswa

Kendati tak menyebutkan jumlah, konversi pasien dari positif ke negatif lebih banyak. "Recoverynya maksimal 10 hari, di samping ada efek lainnya berupa perbaikan pada bagian yang ditinggalkan akibat infeksi," jelasnya.

Meski demikian, Eko Sandjojo menyatakan bahwa penggunaan suplemen tersebut dalam pengobatan sepenuhnya menjadi kewenangan Badan POM dan juga Kementerian Kesehatan. Terlebih proses uji klinis masih berlangsung.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X