Kebijakan Non-Tarif Pengaruhi Perkembangan Industri Mamin Indonesia

- Kamis, 17 Juni 2021 | 13:08 WIB
Industri makanan. (suaramerdeka.com / dok)
Industri makanan. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kebijakan non-tarif atau non-tariff measures (NTM) memengaruhi perkembangan industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia.

Hal ini juga berdampak pada perekonomian Indonesia karena industri mamin berkontribusi sebesar 6,25 persen terhadap PDB Indonesia tahun 2018, berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2019.

Kontribusi industri mamin terhadap PDB manufaktur nonmigas juga cukup signifikan, yaitu sebesar 39,5 persen pada triwulan II-2020, berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2020.

Baca Juga: Kaspersky dan BSSN Tandatangani MoU Pengembangan Kapabilitas Keamanan Siber Indonesia

Selama masa pandemi, industri ini mempekerjakan sekitar 5 juta orang Indonesia atau 27,6 persen dari total tenaga kerja manufaktur di Indonesia. Oleh karena itu, industri ini sangat vital bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

NTM dalam perdagangan umum dilakukan banyak negara untuk mendukung tujuan politik dan ekonomi mereka. 

Namun penggunaan yang berlebihan justru dapat berdampak negatif bagi bisnis, konsumen serta perekonomian mereka secara umum.

Baca Juga: Lima Daerah Lakukan Penghentian Siaran Analog Paling Lambat 17 Agustus 2021

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak menggunakan hambatan ini, terutama di sektor pangan dan hasil pertanian.

“Hal ini berakibat pada tingginya harga pangan sehingga membebani konsumen, menggerogoti daya saing ekspor serta membahayakan ketahanan pangan nasional,” Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hyundai Optimistis Creta Bisa Merajai Segmen SUV

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:52 WIB
X