Aturan Baru Kemenkes: Sinovac, AstraZeneca, Pfizer dan Novavax Tak Bisa untuk Vaksinasi Gotong Royong

- Kamis, 17 Juni 2021 | 08:00 WIB
vaksin covid-19. (suaramerdeka.com / dok)
vaksin covid-19. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Vaksin Covid-19 merek Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavax tetap tidak dapat dipergunakan untuk Vaksinasi Gotong Royong.

Hal ini tertuang dalam aturan terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengenai pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi COVID-19 untuk meningkatkan cakupan dan mempercepat program vaksinasi nasional.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2021 yang disahkan oleh Menteri Kesehatan pada 28 Mei 2021, menggantikan Peraturan Menteri Kesehatan yang sebelumnya Nomor 10 Tahun 2021.

Baca Juga: 47 Warga Desa Gumelar Positif Covid-19, Jogo Tonggo Digiatkan

Juru Bicara Covid-19 dari Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menjelaskan bahwa dalam aturan yang baru, Kemenkes mengizinkan penggunaan jenis vaksin Covid-19 yang dipergunakan dalam Vaksinasi Gotong Royong.

Itu adalah vaksin Sinopharm, sebagai Program Vaksinasi Pemerintah yang gratis. Hal ini perlu diatur mengingat 500 ribu dosis vaksin Sinopharm yang diperoleh merupakan hibah dari pemerintah Uni Emirat Arab sehingga tidak dapat diperjualbelikan.

“Poin utama dari aturan ini untuk mengatur bahwa pemerintah diperbolehkan menerima vaksin yang sama dengan yang digunakan dalam Vaksinasi Gotong Royong selama itu merupakan skema hibah atau bantuan secara gratis. Bukan malah sebaliknya,” tegas dr. Nadia.

Baca Juga: Mau Menginap di Hotel Solo? Wajib Tunjukkan Hasil Negatif Covid-19

Untuk vaksin yang telah ditetapkan untuk program Vaksinasi Gotong Royong saat ini di antaranya adalah Sinopharm, Moderna dan Cansino.

“Ada kemungkinan, Indonesia akan menerima hibah dari COVAX Facility dengan merk vaksin yang juga digunakan untuk vaksin Gotong Royong. Indonesia tidak mungkin untuk pilih-pilih jenis vaksin yang dihibahkan secara gratis oleh COVAX karena seluruh dunia masih berebut vaksin,” dr. Nadia.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X