Typefest 2022: Peduli Tradisi Nusantara Lewat Workshop Aksara Lontara

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:49 WIB
Peserta workshop mengenai sejarah aksara Lontara. (suaramerdeka.com / dok ISI Surakarta)
Peserta workshop mengenai sejarah aksara Lontara. (suaramerdeka.com / dok ISI Surakarta)

SOLO, suaramerdeka.com - Workshop menulis aksara Lontara diselenggarakan Kamis, 12 Mei 2022 di TBTJ (Taman Budaya Jawa Tengah) Surakarta.

Workshop merupakan sebagai bagian beragam acara pendukung dalam Typefest 2022, International Typography Biennial, yang digelar FSRD ISI Surakarta selama tiga hari

Workshop menulis aksara Lontara dihadiri sekitar 20an peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum ini dengan oleh Dr. Cia’ Syamsiar, S.Pd., M.Sn. (Dosen Seni Murni FSRD ISI Surakarta) sebagai pemateri.

Beragam materi diberikan kepada 20an peserta workshop mengenai sejarah aksara Lontara pada awalnya disebut dengan aksara Lontara jangang-jangang (burung) dengan jumlah huruf 18.

Baca Juga: Waisak Jatuh pada 16 Mei 2022, Ini Asal Kata dan Makna di Balik Perayaannya

Kemudian seiring dengan masuknya pengaruh Islam aksara lontara ini juga menyesuaikan dengan ajaran Islam yang kemudian berkembang menjadi 19 huruf kemudian 23 huruf ditambah dengan vokal /e/ /o/ /è/ /i/ /u/ seperti yang digunakan saat sekarang ini.

Setiap huruf konsonan mempresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/ yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu (e, o, è, i, u).

Suku kata mati, atau suku kata yang diakhiri dengan konsonan, tidak ditulis dalam aksara Lontara, sehingga teks Lontara secara inheren dapat memiliki banyak kerancuan kata yang hanya dapat dibedakan dengan konteks.

 

Diiringi candaan dan spontanitas di antara peserta, menjadikan workshop ini menjadi hidup dimana hampir seluruh peserta baru pertama kali mengenal aksara Lontara yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-14.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

HUT Ke-21, Polkesmar Raih Dua Prestasi

Sabtu, 21 Mei 2022 | 12:50 WIB
X