Indonesia Respon Permohonan Maaf PM Belanda Mark Rutte Atas Kekerasan Selama Perang 1945-1949

- Sabtu, 19 Februari 2022 | 20:59 WIB
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia. Foto: Antara/Reuters/ Valentyn Ogirenko
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia. Foto: Antara/Reuters/ Valentyn Ogirenko


SEMARANG, suaramerdeka.com - Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia atas kekerasan yang dilakukan militer Belanda selama Perang Kemerdekaan 1945-1949.

Permohonan maaf PM Belanda itu pun ditanggapi oleh pemerintah Indonesia dan disebutkan bahwa saat ini tengah mengkaji permohonan maaf tersebut.

Juru bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah mengatakan, untuk bisa memaknai secara tepat permohonan maaf dari PM Belanda tersebut saat ini pemerintah Indonesia mempelajari dokumen-dokumen hasil penelitian sejarah perang kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Kisah Sejarah; Inilah Cerita Perseteruan Antar Musisi Sepanjang Masa

"Kami tengah mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh statement (pernyataan) yang disampaikan PM Rutte tersebut," kata Teuku Faizasyah, dikutip suaramerdeka.com dari Antara, Sabtu, 19 Februari 2022.

Namun demikian, Teuku Faizasyah mengatakan bahwa pemerintah Indonesia mengikuti secara saksama publikasi hasil penelitian sejarah "Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950".

Sebelumnya, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia atas kekerasan sistematik hingga melampaui batas yang dilakukan militer Belanda selama masa Perang Kemerdekaan 1945-1949.

Baca Juga: Kisah Sejarah; Inilah Cerita Perseteruan Antar Musisi Sepanjang Masa

Rutte menilai temuan tersebut sengat memalukan, ia juga mengungkapkan bahwa pemerintahnya sudah mengakui seluruh temuan dari penelitian sejarah tersebut.

"Kami harus menerima fakta memalukan. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia hari ini atas nama pemerintah Belanda," kata Rutte dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Jumat, 18 Februari 2022.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Terkini

X