Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, RK Mangkel Singgung Lagi Soal Mudik

- Minggu, 13 Juni 2021 | 19:40 WIB
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil minta kepada generasi unggul jangan cuma makan kecap dan kerupuk. (istimewa)
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil minta kepada generasi unggul jangan cuma makan kecap dan kerupuk. (istimewa)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Kasus Covid-19 di Jawa Barat mengalami peningkatan dalam pekan-pekan ini.

Hal ini ditandai dengan bed occupancy rate, tingkat keterisian rumah sakit hingga 68 persen. Khusus Bandung, angkanya hingga 85 persen.

Atas kondisi tersebut, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut pekan-pekan ini sebagai masa inkubasi dari warga yang melakukan mobilitas di seputaran Lebaran yang oleh pemerintah dilarang.

Bahkan dia menyebut mereka yang tetap memaksa berpergian di periode tersebut telah membawa kemudharatan. Meski demikian, pihaknya menyebut peningkatan kasus tersebut masih tetap terkendali.

Baca Juga: Update 13 Juni: Bertambah 4655 Pasien Sembuh Covid-19 di Indonesia Sudah 1.745.191 Orang

Situasi tersebut diperoleh setelah RK melakukan tinjauan langsung ketersediaan tempat tidur bagi pasien Covid-19 di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Kota Bandung, Sabtu (12/6) malam.

"Terjadi lonjakan pascalibur Lebaran yang masa inkubasinya jatuh di minggu-minggu ini. Ini menunjukkan bahwa ketidaktaatan pada imbauan untuk tidak mudik membawa kemudaratan seperti ini. Jadi intinya ada kenaikan, tapi masih relatif terkendali,” katanya.

Dia pun secara implisit agak jengkel. Pasalnya, dia sebelumnya berharap masyarakat bisa taat terhadap kebijakan yang ditujukan bagi kebaikan bersama itu

"Kalau pada saat itu semua taat tidak akan terjadi lonjakan seperti sekarang. Jadi ini tolong diulas, pentingnya ketaatan itu. Kenapa? Karena data pada hari Lebarannya itu rendah. Salah satu persentase (kasus) terendah itu justru di hari Lebaran. Sekarang ada kenaikan," tandasnya.

Baca Juga: Ronaldo Tangkap Anji Manji Terkait Narkoba

Berdasarkan hasil peninjauan tersebut, Emil menyebut bahwa tingkat keterisian kedua rumah sakit tersebut memang mengalami peningkatan pascalibur Lebaran, tetapi masih dalam kondisi relatif bisa ditangani.

Untuk tingkat keterisian ruang isolasi non-ICU di RSUP Dr. Hasan Sadikin berada di angka 64 persen. Sementara keterisian ruang isolasi ICU mencapai 80 persen.

Dijelaskan, untuk jatah bed untuk pasien Covid-19 di RSUP tersebut masih 26 persen. Angka ini disebut masih bisa ditingkatkan menjadi 40 persen. Dengan demikian, ada pergeseran sekitar hampir 200 bed akan dikonversi untuk perawatan pasien COVID-19," tuturnya.

"BOR (Bed Occupancy Rate) di Kota Bandung sangat tinggi. Karena 50 persen pasien-pasien dari luar Kota Bandung memilih untuk mendapatkan perawatan Covid-19 di Kota Bandung," ucapnya.

Baca Juga: Tempat Isolasi Ditambah Hotel dan Balai Diklat

Menurut Emil, provinsi sudah menyiapkan antisipasi atas peningkatan kasus Covid-19 yang terus terjadi. Selain menambah kapasitas rumah sakit, pusat-pusat isolasi nonrumah sakit bagi pasien tanpa gejala akan ditambah.

"Pemerintah sudah menyiapkan antisipasi. Pertama menaikkan rasio bed untuk Covid-19 menjadi lebih tinggi. Dari rata-rata 20-an persen, ke arah 30-40 persen. Kedua, isolasi-isolasi nonrumah sakit kita siapkan," katanya.

Di luar itu, pihaknya akan melakukan pengendalian dengan mengeluarkan aturan pengetatan aktivitas masyarakat yang tengah disiapkan. Di antaranya WFH untuk kawasan Bandung Raya.

"Termasuk pengetatan-pengetatan yang memang akan jadi pola. Jadi jangan kaget, kalau kasus naik, maka akan diperketat. Mudah-mudahan bisa turun seperti sebelum Lebaran,” kata mantan Walikota Bandung itu.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

RK: Siap-siap Hidup dengan Covid-19 Sebagai Endemi

Selasa, 21 September 2021 | 17:32 WIB
X