Susi Pudjiastuti Juga Tanggapi Soal Pungli

- Sabtu, 12 Juni 2021 | 14:26 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (Foto Istimewa)
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (Foto Istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kasus pungutan liar (pungli) kembali menjadi sorotan. Terbaru Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menelepon Kapolri begitu mendapatkan keluhan soal pungli dari para supir container.

Keluhran tersebut disampaikan ke Jokowi saat berkunjung ke Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas Koja, Kamis (10/6) lalu.

"Pak Kapolri selamat pagi, saya di Tanjung Priok. Banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungli di Fortune, di NPCT 1, kemudian di Depo Dwipa. Pertama itu" ucap Jokowi saat itu.

Baca Juga: Juni, Cilacap Dijatah 1.440.880 Tabung Elpiji 3 Kg

"Kedua, kalau pas macet itu banyak driver yang dipalak preman-preman. Keluhan-keluhan ini tolong bisa diselesaikan. Itu saja Kapolri," tambahnya lagi.

Kasus pungli di Tanjung Priok menjadi sorotan, tak lama para polisi berhasil menahan oknum di balik pungli para supir kontainer.

Tertangkapnya oknum tersebut mendapat banyak komentar, soal saber pungli yang bekerja tak optimal hingga kerja cepat polisi saat dititah oleh Jokowi.

Baca Juga: Hari Media Sosial Nasional, Masih Banyak Pekerjaan Rumah untuk Indonesia

Di sisi lain, mantan Menteri Keluatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun turut memberikan pandangannya soal kasus pungli.

Melalui akun Twitter pribadinya Susi Pudjiastuti menilai jika pungli adalah suatu hal yang lumrah terjadi.

Bahkan kasus pungli yang terjadi di Priok menurutnya merupakan bagian kecil dari kasus yang ada.

"Pungli belakangan jadi hal yang lumrah, kecenderungan makin merajalela. Pungli di Priok itu kecil," ujarnya, dari Twitter @susipudjiastuti yang diunggah, Sabtu (12/6).

Baca Juga: Strategi Pemasaran BTS Meal Dinilai Kreatif, Ini Kata Pakar UGM

Susi Pudjiastuti mengungkapkan jika kasus pungli juga bisa terjadi di tempat-tempat tertutup. Uang menjadi pelumas agar 'perjalanan' menjadi lebih lancar.

"Di Kantor-kantor di belakang meja, Lobby hotel & cafe dll, membuat semua tidak mudah jalan lancar tanpa pelumas yang bernama Pungli," tuturnya.

Menurutnya sudah saatnya semua pihak menghilangkan kata 'pelumas' dalam roda pembangunan.

"Kita harus merubah kalimat Roda Pembangunan perlu pelumas!!," katanya lagi mengakhiri cuitannya.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

WHO: Awas Lonjakan Mobilitas Warga

Jumat, 17 September 2021 | 14:18 WIB

Menyusuri Jejak Semarang hingga Belanda

Jumat, 17 September 2021 | 01:00 WIB
X