Siapkan Opsi Buka RS Darurat, Sisrute Diwanti-wanti Bisa Berjalan Optimal

- Jumat, 11 Juni 2021 | 15:35 WIB
Jabar Punya Informasi (suaramerdeka.com/Setiady Dwi)
Jabar Punya Informasi (suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Menghadapi tren kasus Covid-19 yang meningkat pasca Lebaran dan liburan setelahnya, Satgas Covid-19 Jabar mengambil opsi segera membuka RS darurat di samping optimalisasi penambahan kamar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan itu

Dalam kaitan itu, Dinkes Jabar meminta RS-RS untuk benar-benar mengupdate keterisian ruang perawatannya selama masa kenaikan kasus tersebut.

Mereka ingin Sisrute (Sistem Informasi Rujukan Rumah Sakit Terintegrasi) berjalan optimal.

Bahkan mereka menyarankan RS untuk menempatkan personil khusus guna mengurusi persoalan ketersediaan ruang perawatan tersebut.

Dengan demikian, situasi tersebut bisa diketahui masyarakat yang tengah membutuhkannya.

"Punten kepada RS untuk menugaskan sehingga tahu betul, dinamika updatenya, sehingga tahu yang kosong berapa, masyarakat pun lebih mudah mengaksesnya," katanya pada Program Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate Bandung, Jumat (11/6).

Langkah tersebut sekaligus sebagai upaya keterbukaan yang memang dibutuhkan di tengah penanganan kasus Covid-19.

Untuk penambahan ruang perawatan dan isolasi, Satgas menegaskan ikhtiar tengah dilakukan terutama di wilayahnya yang kasusnya meningkat dengan dominasi di Bandung Raya dan Bodebek.

Baca Juga: 59 Jamaah Ajukan Pengembalian Setoran Pelunasan Haji 2021

Penambahan itu di antaranya RS darurat di Bogor dan Bekasi. Kedua pusat isolasi itu sebelumnya sempat berfungsi. Hanya saja, akibat kasus yang cenderung melandai pada Maret- April lalu, operasionalnya dihentikan.

"Untuk Bandung, kita siapkan di BPSDM dan Secapa AD dengan opsi bisa ditambah kapasitasnya yang saat ini sebanyak 350 bed.

Kemudian kita juga akan mempercepat operasional RS baru di Soreang dengan kapasitas 100 bed," jelas Ketua Harian Satgas Covid-19, Daud Ahmad.

Untuk tren kasus di wilayahnya, jelasnya, jumlah kasus korona dalam sepekan terakhir memang mengalami peningkatan karena angkanya di atas 1.000 kejadian.

Baca Juga: Ada Kendala di Ujicoba PPDB Online Jateng 2021, Disdikbud Didesak Segera Perbaiki Sistem

Peningkatan tersebut, sebutnya, imbas mobilitas masyarakat selepas kebijakan larangan mudik dicabut.

Kadiv Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Jabar Marion Siagiaan menambahkan tingkat keterisian rumah sakit (bed occupancy rate) sudah di atas rasio standar WHO yakni 62,65 persen. Karenanya, status penanganan berada di level Siaga.

"Sejak 28 Mei lalu, peningkatannya, 15 hari pasca Lebaran, kasusnya sempat fluktuatif antara 1.200-800 kasus, tapi pekan terakhir rata-rata di atas 1.000 kasus, pertambahannya setiap hari. Dibandingkan pekan laluz 2-3 persen naiknya per hari," jelasnya.

Dari kondisi tersebut, pihaknya menyatakan bahwa kasus itu kebanyakan dari klaster keluarga yang diduga muncul karena banyak melakukan interaksi di saat hari raya. Lebih dari itu, kasus-kasus tersebut diwarnai tingkat keparahan penderitanya.

Hal ini merujuk pada pasien-pasien yang mendapat perawatan di RSUD Al Ihsan Kabupaten Bandung.

Bed yang disediakan yang berjumlah 151, kata Dirut Dewi Basmala Gatot, seluruhnya terpakai. Belum lagi, pasien-pasien lain yang terus berdatangan yang masih menjalani skrining.

"Kondisinya mengerikan, karena banyak yang datang dengan kondisi yang sudah buruk. Kemungkinan sudah lama di rumah tak terdeteksi atau didiamkan, kita tak tahu karena tahu-tahu masuk dengan kondisi yang berat," jelasnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X